Tampilkan postingan dengan label Esai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Esai. Tampilkan semua postingan

Kamis, 21 Februari 2013

Cinta

Oleh Sugianto

Waktu kian merangkak larut. Di sebuah ruang yang tak lapang, sekawanan anak muda duduk mengobrol. Dari wacana yang terlontar, menunjukkan seolah mereka sedang berbincang ‘serius’. Wacana apakah itu? Cinta. Cinta memang khas melekat pada obrolan kawula muda.

Cinta memang sudah dibincangkan setua peradaban manusia. Sejak Tuhan menciptakan Adam dan Hawa, cinta telah menempati pusat dalam diskursus agama. Tuhan tak hanya menciptakan seonggok daging. Ia juga meniupkan rasa cinta dalam tubuh Adam dan Hawa, yang kelak memengaruhi sejarah peradaban manusia. Dari Adam dan Hawa, seperti tertera dalam teks-teks kitab suci agama Ibrahim, lahirlah anak-cucu Adam yang beragam dan mendiami hampir di seluruh sudut di dunia ini.

Mungkin itu pulalah, dalam teks-teks suci itu, Tuhan pun berfirman, menyeru manusia mengenal satu sama lain. Dengan begitu mekarlah cinta. Perbedaan sebagai takdir Tuhan tak semestinya direspon dengan anarkisme yang berujung pada konflik yang mengorbankan kemanusiaan. Cintalah yang bisa menjadi jalan sekaligus suluh sumbu sosial yang mudah terbakar kapanpun dalam konstruk tubuh sosial yang rapuh saat ini.    

Di era filsafat skolastik, Yunani kuno dulu, cinta juga telah menjadi bagian sentral perdebatan masyarakat Athena. Plato mengenalkan arete (kebijaksanaan). Manusia sitir Plato, dalam menggapai arete, manusia harus memiliki cinta. Dalam diskursusnya tentang hidup bersama dalam bingkai republik Plato yang mashyur itu, cinta menempati pusat tindakan. Plato, katanya, negara harus dipimpin seorang filsuf karena memiliki arete. Ia harus memimpin rakyatnya dengan penuh kasih sayang. Begitulah pemimpin negara ideal versi Plato.

Muridnya yang terkenal, Aristoteles, jauh lebih dalam meradikalkan konsep gurunya. Aristoteles menilai kehidupan tanpa cinta bakal sia-sia. Bayi, kata Aristoteles, harus terus mendapat kasih sayang dari orang tuanya. Agar ia bisa eksis menempuh jalan hidupnya. Aristoteles melanjutkan, bayi yang kurang sentuhan kasih sayang akan mudah terserang penyakit dan membahayakan kehidupan sang bayi. Dari sinilah mungkin postulat psikologi moderen betapa berharganya cinta dalam tumbuh-kembang manusia berawal.

Begitulah cinta. Cinta amat subtil. Manusia tumbuh bersama cinta. Semenjak jemari ibu menyentuh sang bayi, dari situlah momen subtil manusia mengenal rasa cinta. Tanpa cinta mungkin benar seperti yang dibilang Aristoteles, kita tak akan pernah bisa bertahan hidup.

Namun cinta subtil yang sedari dulu diagungkan para penyair, sastrawan, dan para filsuf dalam karya-karyanya kini harus mendapati kenyataan pahit. Betapa tidak, sejak manusia menemukan teknologi canggih seperti televisi diskursus cinta telah melewati batas-batas normalnya.

Betapa mudahnya tv mereproduksi cinta dalam roman-roman picisan, telenovela, sinetron hingga film-film cinta yang tak bermutu. Cinta begitu diumbar. Hingga ia kehilangan misteri. Kini cinta seperti halnya kacang goreng renyah yang diobral murahan oleh para aktor-aktris di panggung sandiwara. Bayangkan saja betapa konyolnya, dalam adegan sebuah sinetron misalnya, seorang anak kecil sudah mengumbar rasa cintanya terhadap lawan jenis. Bukankah ini asing. Bahkan keterlaluan.

Mungkin benar seperti tesis Baudriliard bahwa era moderen adalah era visual. Para pemodal memanfaatkan wajah tampan dan ayu para tokoh untuk mengeksploitasi sekaligus mereduksi cinta hanya pada kawula muda. Kita yang besar dengan budaya tontonan kian klop dengan budaya baru tersebut. Sehingga apa yang kita tonton tanpa sadar merasuk dalam bawah sadar kita. Termasuk cinta ketika dianggap hanya partisan dan eksklusif konsumsi anak muda karena agenda setting tv demi meraup pundi-pundi rupiah diam-diam bawah sadar kita pun membenarkan diskursus dominan tersebut.

Dalam kondisi demikian, jangan-jangan kita tak pernah lagi mengalami atau merasakan detak-detak cinta yang begitu syahdu. Meski tiap saat kita tak pernah melewati sedikit pun sinetron, iklan, atau novel-novel cinta picisan.

Kita pun tak heran, ketika bencana kemanusiaan―kelaparan, busung lapar, penganiyaan TKI, rusaknya moralitas elit-elit kita―sebagian anak muda memilih diam seribu bahasa. Sebaliknya saat konser-konser musik bertema cinta tak sedikit di antara mereka meneteskan air mata karena diasosiasikan dengan pengalaman cintanya. Lalu kemanakah cinta sejati itu bermukim? Benarkah ia sudah tenggelam kumuh di burit para industriawan? Kita tak paham. Tapi seperti diskurusus anak muda di ruangan  tengah malam itu, cinta memang khas anak muda saat bertemu lawan jenisnya. Kalau sudah begitu mau apa lagi. Cinta sepertinya tak mau lagi berumah di dalam hati yang universal. Seperti ajaran cinta kasih Paus yang damai itu. Selamat bercinta!!! 

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More