Sabtu, 16 Maret 2013

Bangkit

 Oleh dhi_self

Mungkin ini adalah permulaan

Di awal bulan pada senja yang semakin temaram

Pada tahun dimana mimpi akan terus menari-nari

Dalam cuaca yang tak pernah bisa terduga,

Sementara tangan-tangan mulai membeku dalam cengkeraman tinta yang semakin menghitam


Waktu ini masih terlalu awal untuk menyudahi kegelisahan kita

Untuk sebuah rasian, kita tidak mesti memejamkan mata

Untuk sebuah harapan, orang tidak mesti menengadahkan telapak tangannya

Untuk cinta, orang tidak mesti saling memuji


Pernah kita kehilangan arah, suara bahkan jiwa

Dada kita terasa sesak untuk menyimpan pertanyaan tentang segala hal

Hanya  kehidupan yang menghidupi kita, kawan

Terkadang kita menjadi pecundang…….

Terkadang kita menggelandang……

Terkadang kita tenggelam……

Namun kita juga tak jarang melupakan dalam canda

Mencerca dalam cerita

Menyanyi dalam kesepian

Berjalan diatas kesombongan


Hanya kata rindu yang tidak pernah kita urai

Untuk mereka yang merangkul kita dengan kasihnya

Dahulu…..kemarin atau esok hari

Sejak kita merangkul dunia yang selalu menyisihkan kita


Gugur kelopak bunga di luar sana

Berdebu... dan terinjak

Dedaunan kan dikumpulkan dan dibakar

Kehidupan selanjutnya hanya tentang keindahan


Semuanya mungkin telah berubah

Seperti pengasoan yang dulu kita singgahi,

Dimana selepas bergumam kita akan bernyanyi

Mencoba menertawakan diri pada senja di suatu pelabuhan

Selanjutnya melepaskan pandang dalam genangan kata yang mulai melimpah


Namun kita semua sudah sepakat,

Bahwa hidup bukan untuk diratapi!!!


Sabtu, 16 Maret 2013

Minggu, 03 Maret 2013

Pesona Sang Pemenang

Oleh Sugianto

Terbilang berabad yang lampau, seorang pujangga termasyhur yang hidup di Kasunanan Surakarta, Ronggowarsito, meramalkan akan datangnya Ratu Adil dan Satrio Piningit, seorang pemimpin yang memiliki jiwa kesatria—berbudi pekerti luhur, adil, bijaksana, mengayomi, suci, dan dekat dengan rakyat yang dipimpinnya.

Ramalan yang dikenal dengan ramalan Jayabaya itu meski dilahirkan di zaman di mana mitologis (baca: supranatural) masih menjadi kiblat diskursus masyarakat dominan, tetap saja hingga kini ketika zaman berupaya sekuat mungkin mengubur mitos dengan rasionalisme yang menekankan uji dan validitas  kebenaran lewat logika empirisisme, sebagian besar masyarakat masih memercayai ramalan itu.

Dalam wilayah politik pun di mana nasib berjuta manusia di perbincangkan dan diputuskan yang seharusnya steril dari wilayah metafisik  tetap saja tak bisa sepenuhnya memisahkan diri darinya. Termasuk dalam helatan pemilihan gubernur (Pilgub) DKI Jakarta  periode 2012-2017 beberapa waktu lalu wacana itu tak hanya sekadar omong-omongan warga kelas bawah di warung kopi, namun merambah luas menjadi percakapan kelas menengah yang dibincangkan mulai dari jejaring sosial dunia maya hingga ke televisi.

Tentu saja Satrio Piningit ‘versi moderen’ yang didiskursuskan banyak orang melekat kuat pada profil Joko Widodo (Jokowi) yang bersama Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)—diusung PDIP dan Gerindra—keluar menjadi kampiun setelah melewati hadangan terakhir Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli—yang didukung oleh multipartai—pada putaran kedua Pilgub DKI. Jarang sekali seorang politikus ‘new comer’ mengalahkan politikus incumbent— notabene memiliki sumberdaya politik untuk memenangkan kontestasi—setidaknya ditilik dari epos Pilgub-Pilkada lebih dari sewindu praktik desentralisasi.

Tak tanggung-tanggung para tim sukses atau simpatisan Jokowi yang membludak di markas pemenangan Jokowi di Jalan Borobudur 22 Jakarta meski mengetahui suara ‘jagoannya’ mengungguli Foke-Nara, 54 % berbanding 46 %, lewat hasil quick count lembaga-lembaga survei (20/10/12). Mereka gegap-gempita bernyanyi, membentang poster dan spanduk-spanduk yang mengasosiasi Jokowi sebagai seorang Satria Piningit.  

Jokowi sang fenomenal. Kalimat itu memang bombastis. Jauh hari sebelum menjadi orang nomor satu di DKI Jakarta, predikat itu telah disandang (inilah.com/5/1/12). Sewaktu Jokowi masih Wali Kota Solo, ia sudah menjadi figur  politik yang banyak disorot media karena seni kepemimpinannya yang populis. Ia tak segan ‘berlumpur ria’ yang ia istilahkan “blusukan” bersama wong cilik. Kesehariannya tampil bersahaja. Serta gaya berbahasanya yang sederhana menarik simpati kalangan akar rumput.

Seni kepemimpinan yang merakyat itulah ia mampu menyulap Solo menjadi rumah yang nyaman bagi Pedagang Kaki Lima (PKL), tukang becak, buruh, bahkan seni dan budaya. Atas alasan itulah majalah Tempo memasukan Solo sebagai satu dari sembilan daerah bintang—daerah yang berhasil membangun dan menata warga dalam praktik otonomi daerah.

Sepak terjang politik Jokowi memang menimbulkan enigma bagi para pewarta. Hampir setiap hari media menurunkan liputan tentang Jokowi, entah sebagai pejabat publik maupun pribadi. Ia diberitakan dari urusan politik hingga ke konstruk tubuh. Wajar karena seperti diakui oleh pelaku media popularitas Jokowi memang menggugah sekaligus menguntungkan pundi-pundi bisnis media.

Ia pun menjelma laiknya ‘selebriti politik’ yang menarik para paparazi dan pekerja infotainment, menguntit keseharian Jokowi. Diskursus Jokowi pun merambah hingga ke tingkatan gosip. Dengan setengah sinis, sebagian orang menyebutnya ‘Jokowi-tainment’.

Lepas dari perkara pencitraan, seperti kegandrungan laku politik pascareformasi, baru-baru ini BBC Asia menahbiskan Jokowi sebagai Obama’s Jakarta (23/1/13). Obama-nya Jakarta. Seperti Obama, presiden Amerika yang populer itu, Jokowi juga tak kalah masyhur. Di tengah deras banjir melanda Jakarta baru-baru ini hingga menggenangi Istana Kepresidenan RI yang ‘seolah’ menyambut 100 hari kerja Jokowi-Ahok tak serta-merta membuat Jokowi-Ahok dibanjiri hujan kritik. Bermodal rakit styrofoam Jokowi ‘berbasah-basahan’ menyambangi para korban banjir.

Media Darling

Berbeda dengan banjir-banjir di Jakarta sebelumnya yang menuai banjir narasi kritik pedas terhadap pemerintah yang berkuasa, seperti yang dialami Foke saat menjabat Gubernur Jakarta. Fenomena apakah ini? Media darling. Kesayangan media. Begitulah diskursus dominan yang muncul ke permukaan merespon Jokowi yang seolah menjalin hubungan mesra dengan media.

Media darling bisa dibilang bukanlah fenomena baru. Barack Obama, Presiden AS yang mashyur itu menjadi kampiun, salah satunya karena kedekatannya dengan media massa. Para rival politiknya tentu saja berang. Mau apa lagi, Obama menjadi ikon yang menarik diperbincangkan masyarakat AS.

Istilah media darling, seperti dilansir wiktionary.org ialah a celebrity who is especially popular and who receive frequent and very favorable attention in the news media. Awalnya istilah itu disematkan kepada para pesohor. Selebriti. Meski belakangan ini, istilah tersebut sudah melantas ke gelanggang politik.

Tubuh politik saat ini pun kian absurd. Kini, untuk menjadi politisi, di zaman digital ini, tak cukup bermodal keluhuran budi, ketulusan mengabdi, piawai memimpin dan berpihak ke orang-orang kecil. Model tampang juga perlu dipoles. Kadang dalam derajat tertentu, yang satu ini, lebih mujarab. Meski tampang, di era citra ini, bukanlah sesuatu yang statis. Ia selalu bergerak, mengikuti mode ‘popularitas’ dalam jagat industri budaya yang tak pernah diam.

Kadang ada masanya, dalam industri budaya, yang lalim berubah alim, pengecut berubah pahlawan, penakut jadi pemberani, tiran jadi pahlawan dan pelawak jadi pemimpin. Mode yang ganjil itu bisa berlangsung dalam tempo cepat. Tentu saja watak seperti ini amat jauh dari kehidupan politik zaman dulu, di mana teknologi masih terbatas.

Dan para politisi paham akan mode itu. Mereka pun berlomba mempermak diri. ‘Salon-salon’ politik tumbuh subur. Ibarat sulap: para tuan yang rakus pun tiba-tiba jadi dermawan, pelanggar HAM berat pun menampakkan diri seorang humanis, dan para koruptor ranjing berderma ke masjid-masjid.

Citra bagaimanapun kemasan bentuk dan rupanya tak akan mampu mengelabui masyakarakat secara beruntun. Karena citra pada dasarnya adalah paradoks. Antara yang tampak dan tersembunyi selalu mengalami tegangan yang tak pernah akur.  

Apakah Jokowi sadar akan mode politik seperti itu? Sebagai politisi tentu saja ia sadar. Namun Jokowi barangkali tak perlu cemas dengan perkara citra yang kerap dihembuskan lawan-lawan politiknya. Sebab, rekam-jejaklah yang tak akan pernah membohongi rakyat. Jokowi, di Solo, setidaknya sudah membuktikan percik-percik idealisme politik.

Tak hanya itu, Jokowi bersama para tokoh-tokoh politik lokal lain yang berprestasi membangun daerahnya, membuat suluh otonomi daerah (desentralisasi) yang berjalan lebih satu dekade, yang semula samar bahkan buram karena janji-janjinya yang kerap membual, perlahan menyala dan terang. Semoga ideal politik seperti itu menjadi prototipe generasi muda bangsa ke depan.

Meski kita maklum, di dunia politik, para politikus, seperti Jokowi misalnya, tak pernah absen dari kerikil-kerikil kealpaan. Sebab di dunia politik, tak ada politikus yang seratus persen bersih.   

Sabtu, 02 Maret 2013

Tanya Dalam Gumam

“Bagaimana?”
Memeluk-Mu
Izinkan si penabur dosa ini
Melesat jauh di cakrawala yang tiada berujung
Berujar pada peraduan makna yang semakin hilang
tanpa menyisakan aroma tubuhmu
Menyingkap pintalan-pintalan kata getir yang ambigu
dalam butir-butir debu pada nafas yang ku hirup
Seraya bergumam “Apakah?”

Melesat dalam sajak dan dengung lebah yang tiada berjubah
Bergelimang keindahan seraya senyum sipesolek ulung di simpang jalan,
Deras mengalir dalam gema genderang yang bertalu masa,
Seraya bergumam “Kemanakah?”
Merangkuh lara dalam pintu yang belum terketuk?

Sementara pohon pengetahuan berdahan teks-teks menghijaukan alam,
Memanggil serta merayu pembawa perubahan?
Dalam teriakan “Kapankah?”

Linang air mata dalam jambangan yang retak
utuh pada sinisnya sudut matamu
Isak tangis melebur hingga perapian di malam dingin ini sobat
Begitu abadikah sedu sedan hingga tempo dan kompas tak menjadi tapal batas
Sarat dunia dengan nama, “Siapakah?”

Mengenang cinta dalam palung kisah
tersimpan begitu rapi dan wangi
Penyejuk dalam gerahnya rasa, penawar dalam pahitnya kematian asa
Pekikan dalam memori duka nestapa
Keterulangan yang tiada mau kan kembali “Mengapa?”

Gemericik cinta Mu bak kabut dalam ketakutan serta menggeret harap
Jikalau jambangan cinta dihujani panah yang melesat
Sedang bau amis darah menusuk hidung
Izinkan si penabur dosa ini
Memeluk-Mu
“Bagaimana?”

by Self

Minggu, 24 Februari 2013

Inilah Transkrip Konferensi Pers Pengunduran Diri Anas Urbaningrum dari Partai Demokrat

Inilah transkrip konferensi pers Anas Urbaningrum di Gedung Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Demokrat, Jln. Kramat Raya, Jakarta Pusat, Sabtu (23/2/13).

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh...

Pertama saya sampaikan terima kasih dan selamat datang ..

khususnya rekan rekan wartawan di Kantor DPP Demokrat  Hari ini saya akan menyampaikan sikap,pikiran dan pandangan menyangkut status saya, dan apa apa yang akan saya lakukan kedepan, seperti diketahui bersama kemarin, tanggal 22 februari 2013 KPK sudah mengumumkan bahwa saya dinyatakan status tersangka. Atas pngumuman KPK itu, saya akan mengikuti proses hukum sesuai ktntuan dan prosdur yang berlaku karena saya masih percaya bahwa lewat proses hukum yang adil obyektif dan transparan, keadilan dan kebenaran bisa saya dapatkan.

Saya masih percaya, lewat proses hukum yang adil, obyektif, dan transparan berdasar kriteria-kriteria dan tata laksana yang memenuhi standar, saya yakin kebnaran masih bisa ditegakkan. Karen saya percaya negeri kita ini berdasarkan keadilan, bukan berdasar prinsip kekuasaan.

Lewat itu, saya akan melakukan pembelaan hukum yang sebaik-baiknya. Berdasarkan bukti-bukti dan saksi-saksi yang kredibel. Saya meyakini betul bahwa saya tidak terlibat proses pelanggaran hukum di proyek Hambalang.

Sejak awal saya punya keyakinan penuh tentang tuduhantuduhan yang tak berdasar itu. Saya meyakini kebenaran dan keadilan pangkatnya lebih tinggi dari fitnah dan rekayasa. Kebenaran dan keadilan akan muncul menang dari rekayasa sehebat dan serapi rekayasa itu dibangun. Itu keyakinan saya.

Sejak awal saya meyakini bahwa saya tidak akan punya status hukum di KPK, karena saya yakin KPK bekerja independen, mandiri, dan profesional. KPK tidak bisa ditekan oleh opini dan hal lain di luar opini. Termasuk tekanan dari kekuatan-kekuatan sebesar apapun itu.

Saya baru mulai berpikir saya akan punya status hukum di KPK ketika ada semacam sangkaan agar KPK segera memperjelas status hukum saya. Kalau benar katakan benar, kalau salah katakan salah. Ketika ada desakan seperti itu, saya mulai berpikir, jangan-jangan saya akan jadi tersangka di KPK setelah saya dipersilakan untuk lebih fokus menghadapi masalah hukum di KPK. Ketika saya dipersilakan untuk lebih fokus menghadapi masalah hukum di KPK, berarti saya sudah divonis punya status hukum sebagai tersangka.

Apalagi saya tahu petinggi partai Demokrat yakin betul, haqul yaqin, Anas jadi tersangka. Rangkaian ini pasti tidak bisa dipisahkan dengan apa yang dikatakan bocornya sprindik. Ini satu rangkaian pristiwa yang utuh tak bisa dipisahkan, terkait sangat erat. Itulah faktanya. Tidak butuh pencermatan yang terlalu canggih untuk mengetahuinya.

Kalau mau ditarik agak jauh ke belakang, sesungguhnya ini pasti terkait dengan kongres Partai Demokrat. Saya tidak ingin cerita lebih panjang, pada waktunya saya akan cerita. Intinya Anas adalah bayi yang lahir tidak diharapkan. Tentu rangkaiannya menjadi panjang. Itu saya alami menjadi peristiwa politik dan organisasi Partai Demokrat. Pada titik ini saya belum sampaikan secara rinci, tetap ada kontek yang jelas menyangkut rangkaian peristiwa-peristiwa politik itu.

Ketika saya memutuskan masuk Partai Demokrat, saya sadar betul bahwa politik kadang-kadang keras dan kasar. Tidak sulit untuk menemuka intrik fitnah dan serangan-serangan. Saya sadari konskuensi-konsekuensinya. Maka saya tidak akan pernah mengeluh dengan keadaan ini. Saya punya keyakinan kuat dan semangat menghadapinya termasuk resiko dan konsekuensinya. Itu adalah kelaziman bagi saya.

Karena saya sudah punya status tersangka, meski saya yakin posisi tersangka saya itu lebih karena faktor-faktor non hukum yang saya yakini, tetapi saya punya standar etik pribadi. Standar etik pribadi saya kalau saya punya status hukum sebagai tersangka maka saya akan berhenti sebagai Ketua Umum Partai Demokrat. Ini bukan soal jabatan dan posisi, ini soal standar etik. Alhamdulilah standar etik saya cocok dengan pakta integritas Partai Demokrat. Saya sendiri di tempat ini seminggu lalu sudah menandatangani pakta intgritas. Dengan atau tanpa pakta integritas, standar etik saya mengatakan, saya berhenti sebagai Ketua Umum Partai Demokrat.

Terkait dengan itu, saya sampaikan terima kasih tulus kepada kader-kader Demokrat yang telah memberikan kepercayaan, amanah, dan mandat politik untuk memimpin Partai Demokrat sebagai ketua umum 2010-2015. Saya mohon maaf kalau saya berhenti di awal 2013 ini. Saya tidak pernah merencanakan untuk berhenti di awal 2013. Sepenuhnya saya bersungguh-sungguh menjalankan mandat dan amanat partai. Tentu ada prestasi dan bolong-bolongnya. Tapi semua itu saya jalani dengan sungguh-sungguh, serius, dan penuh konsentrasi. Alhamdllh saya brsyukur, kurang lebih 2,5 tahun lebih semua saya jalankan penuh dengan kesungguhan dan konsentrasi.

Terima kasih para kader Demokrat yang telah menjalankan kewenangan dan tugas masing-masing. Pengurus DPP, DPD, DPC, majalis tinggi, dewan pembina, dewan kehormatan, komisi pengawas, saya sampaikan terima kasih kepada semuanya yang selama ini bersama-sama menjalankan tugas.

Meskipun saya berhenti jadi ketua umum, saya tidak akan berhenti menjadi sahabat kader Demokrat. Saya jaminkan ketulusan, persahabatan dan persaudaraan itu kepada kader-kader Demokrat di seluruh Indonesia. Apapun tugas langkah yang akan saya tempuh.

Apakah saya menjalani proses hukum, apakah adil dan transparan, tapi saya jamin loyalitas sebagai sahabat yang selama ini kita bangun bersama yang indah dan menyegarkan di dalam dinamika politik yang agak keras dan panas. Itu luar biasa.

Saya juga berharap, siapapun yang nanti jadi Ketua Umum Demokrat, bisa menunaikan tugas, bahkan jauh lebih baik dengan apa yang saya tunaikan bersama teman-teman pengurus selama ini. Pasti akan datang ketua umum yang lebih baik. Saya percaya itu karena sejarah selalu melahirkan pemimpin pada waktunya.

Apa yang akan saya lakukan ke depan adalah tetap dalam rangka memberi kontribusi dan menjaga momentum bagi perbaikan dan peningkatan kualitas demokrasi di Indonesia, apapun kondisi dan keadaan saya. Yang penting adalah saya akan tetap bersama-sama dalam sebuah ikhtiar untuk membuat Indonesia semakin bagus.

Di hari-hari ke depan akan diuji pula etika Partai Demokrat. Etikanya yang bersih cerdas dan santun. Akan diuji oleh sejarah apakah bersih atau tidak, bersih atau korup. Akan diuji partai yang cerdas gagasan bangsa. Apakah Demokrat ini santun atau sadis dalam politik.

Yang paling penting, tidak ada kemarahan dan kebencian. Keduanya jauh dari rumus politik yang saya anut. Mudah-mudahan dianut juga oleh kader-kader Partai Demokrat.

Ada yang berpikir bahwa ini adalah akhir dari segalanya. Hari ini saya nyatakan, ini baru permulaan. Ini baru sebuah awal langkah-langkah besar. Ini baru halaman pertama. Masih banyak hal lainnya yang kita buka bersama untuk kebaikan bersama.

Saya akan berkomitmen dan berikhtiar untuk membrikan sesuatu yang berharga bagi masa depan demokrasi kita. Ini bukan tutup buku, tapi pembukaan halaman pertama. Saya yakin halaman berikutnya akan bermakna bagi kepentingan kita bersama.

Inilah yang saya sampaikan siang ini. Saya tentu akan terus menjadi sahabat teman sekalian, karena banyak buku yang akan kita baca bersama. Tapi jangan dipahami dalam perspektif ngeres, tapi dipahami secara konstruktif bagi kemaslahatan yang lebih besar. Itulah yang akan jadi titik orientasi kita."

Sabtu, 23 Februari 2013

Politik Minus Imajinasi

 Oleh Sugianto

Akhir-akhir ini publik kembali terhenyak atas lakon para wakil rakyat. Rencana pembangunan gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang semula ditentang banyak pihak karena pemborosan anggaran dan rawan manipulasi, kini aksi kengototan yang konon mengklaim diri sebagai para ‘penyambung lidah’ rakyat itu dipertontonkan lagi, setelah belum lama ini wacana itu ‘sengaja’ ditenggelamkan isu-isu lain. DPR kian menegasi diri dari harapan jutaan rakyat di negeri ini.

Belum lama ini Forum Masyarakat Peduli Parlemen (Formappi) merilis sebuah survei yang cukup mencengangkan: 93% konstituen merasa tidak terwakili DPR. Meski tak jadi ukuran absolut karena ruang lingkup terbatas―wilayah Jakarta―survei itu sedikit tidaknya mewakili gugatan suara mayoritas penduduk negeri ini, kemanakah para wakil rakyat selama ini dan apa yang telah diperbuat bagi rakyat?

Jakarta yang secara ruang dan waktu berdekatan dengan gedung parlemen, kenyataannya jarak rakyat dan para wakil rakyat ibarat langit dan bumi. Rakyat tak tahu menahu apa yang diemban para wakilnya, lebih-lebih menikmati implikasi proses politik yang diperjuangkan para wakilnya. Logika awam pun bermain: apalagi rakyat jauh di pelosok nusantara yang kerap tersisih dari tetesan kebijakan kaum penguasa. Sudah pasti mereka terasing dari hiruk-pikuk panggung politik, terlebih mengecap ‘manisnya’ buah politik. Sementara ketika pesta demokrasi yang bernama pemilu, mereka itu kerap menjadi ‘mutiara’ pendongkrak popularitas. Tentu saja bukan lagi diktum rahasia: setelah itu mereka terabaikan.   

Budaya politik telah terjangkiti culture of narcissism. Politik yang terjebak pada citra, minus substansi. Logika materialis mendominasi dihampir setiap rumusan kebijakan. Orientasi politik mendarat pada hasrat budaya mengejar image dan lifestyle ketimbang memikirkan kedalaman makna, esensi, dan visi hidup bernegara. Alih-alih mengusung civic virtue, politik justru terseret ke dalam lembah narsisme.   

Suara rakyat bukan lagi suara Tuhan. Suara rakyat bukan lagi pemandu, tolok ukur, dan nilai determinan sebuah kebijakan. Tapi, suara itu direduksi sekadar pengaman katup kekuasaan.    

Tak heran, relasi penguasa dengan warga dalam konteks demokrasi menjadi apa yang ‘didagelkan’ Shindunata sebagai demokrasi kenes-kenesan. Demokrasi yang mengagungkan diri, di mana politikus ranjing mengumbar kuasa dalam bentuknya yang kini semakin vulgar berupa  kemewahan gedung.        

Sehingga imaji politik cenderung dangkal, berpikir pragmatis ketimbang teleologis. Imajinasi politik bukan lagi ditempatkan sebagai kerangka gagasan jangka panjang, mewujudkan hakikat demokrasi; menyejahterakan dan menciptakan kebajikan warga.Virus itu rupanya telah menghinggapi benak para politikus. Politik tanpa imajinasi yang visioner mustahil memacu bangsa ini keluar dari belenggu krisis sosial.

Konon di gedung parlemen yang baru nan mewah itu pelbagai fasilitas ‘kenyamanan’ disediakan dan untuk ‘kenyamanan’ wakil rakyat, bukan rakyat. Sementara, jutaan rakyat teronggok dalam labirin kemiskinan yang kian hari nasibnya kian tak tentu. Politik seolah bukan lagi sesuatu yang subtil. Politik kian luntur kepekaannya terhadap kemanusiaan.

Tulisan ini pernah dimuat di Swara Kampus Kedaulatan Rakyat

Kampus: Kematian Ruang Publik

Oleh Sugianto

Akhir-akhir ini kita kian galau. Tak hanya karena pagar pongah yang terus mencungkil nalar sehat kita semenjak berdiri. Ia menorehkan jejak ambiguitas yang menginjak akal sehat: mengapa bisa begitu? Bukankah pagar depan yang mesti dipugar seperti aspirasi mahasiswa saat Kongres? Masih waraskah mereka yang konon para intelektual itu?

Belum persoalan itu tuntas. Baru-baru ini santer tersiar kabar, jika kantin dalam beberapa bulan ke depan bakal ditutup. Bukan karena penjualnya mangkir membayar “upeti”, bukan pula karena menderita kerugian. Adalah Kampus begitu bernafsu memburu keuntungan karena kantin dinilai hanya secuil membawa berkah. Sehingga mereka menggandeng pebisnis makanan (konon Popeye, bisnis ayam goreng) yang lebih menjanjikan pemasukan.

Logika macam apa lagi dibalik kebijakan ini? Kita mahfum, para pemerhati pendidikan kini gundah-gulana menyaksikan manuver gila-gilaan dunia pendidikan di negeri ini, karena nalar dan orientasinya tak lagi berpijak pada cita-cita mulia seperti yang diimpikan Freire: pendidikan akan memanusiakan manusia. Melainkan bisnis. Mustahil membayangkan ambisi kaum Marxian, bahwa embrio kesadaran manusia (kelas) bakal lahir lewat rahim pendidikan yang berwatak predator.

Mungkin karena watak inilah sebagai warga cendekia yang baru hendak menatap masa begitu polosnya dimainkan para predator. Wajar jika tatapan mata-mata yang tiap saat berkhotbah pengetahuan tak lagi tulus dalam mendidik, begitulah satiran seorang rekan.

Lantas apa di benak mereka tentang kantin? Pernahkan mereka tetirah di tempat ini? Butakah mereka terhadap realitas di tempat lalu lintasnya ragam wacana ini? Kalau mau jujur di sinilah arena the real classroom. Di tempat inilah kami leluasa berbincang tanpa rasa takut, khawatir, dan was-was. Ditemani secangkir kopi hitam dengan asap rokok mengepul esensi Student Center Learning (SCL) yang dulu berbusa-busa keluar dari bibir para intelektual itu malah mengada. Bukan di ruang kelas konvensional yang sarat kekakuan akademik―bahkan ruang kelas yang terlalu dimonopoli tafsir, mengarah pada kediktatoran wacana.

Di arena inilah kami saling mendebat dan mengkritisi tentang sesuatu. Tak pelak di ruang inilah wajah-wajah eksistensial kami menampakkan diri. Tanpa tendensi menggurui bahkan takut akan kekeliruan. Dari sini pulalah jika kita hendak berkaca kisah-kisah perubahan sosial di Eropa kerap dimulai dari warung-warung kopi sederhana bukan dari ruang ritel-ritel kapital yang sering kali minus dari dimensi kemanusiaan. Apalagi mohon maaf apa jadinya kami dibesarkan oleh makanan-makanan sampah (junk food) seperti itu.

Hanya mereka yang tahu atau Tuhan yang bersemayam dibenak mereka. Begitulah nada pesimisme yang kerap terlontar. Sebab para warga cendekia tak tahu kemana arah yang hendak dituju kampus ini. Mungkin mirip seperti ejekan Donny Gahral Aldian terhadap “republik tanpa nakhoda”. Bukankah narasi demokrasi seperti yang kita kunyah tiap saat di kelas bertumpu pada pengalaman hidup mereka yang tertindas? Jika demikian kampus sebagai ruang intelektual tak seharusnya mengabaikan suara mahasiswa. Ataukah kampus dan mahasiswa ibarat sebuah oposisi biner yang selalu “meniadakan” satu sama lainnya? Entahlah. Yang jelas sebagai mahasiswa jangan sampai ruang publik kita di rebut paksa oleh monster-monster kapital yang pada gilirannya menyeret kita pada lanskap penindasan yang minus ekspresi kebebasan. Hanya ada satu kata kawan: LAWAN!!!  

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More