Sabtu, 23 Februari 2013

Perempuan dalam "Sangkar Emas" Rumah





Oleh Sugianto

"Kita membentuk bangunan, selebihnya merekalah
  yang membentuk kita". (Sir Winston Churcill) 

Rumah sebagaimana lazim dipahami orang sebagai wilayah bebas nilai yang minus ancaman, diskriminasi, proteksi dan lain sebagainya ternyata tidak sepenuhnya benar. Sekadar berbagi cerita kebudayaan, saya akan menarasikan pengalaman hidup yang berkaitan dengan wacana gender. 

Saya lahir dan besar di sebuah daerah terpencil di sebelah tenggara pulau Sulawesi, tepatnya di Tomia. Tomia adalah salah satu dari empat gugusan pulau yang menghuni kabupaten Wakatobi.  Sebagai negeri kepulauan, kami bisa dibilang sebagai masyarakat pesisir. Namun, dari dimensi varian kerja, mayoritas masyarakatnya pebisnis ketimbang pelaut. 

Dari konstruksi rumah, sebenarnya tak ada yang unik. Lazimnya sebuah rumah akan terdiri dari beberapa ruang-ruang sebagai penanda interaksi sosial, baik yang bersifat intim-privat, keluarga, dan ruang publik. Sederhananya bisa dicontohkan seperti ruang tamu, kamar anak laki-laki, kamar anak perempuan, kamar orang tua, ruang tempat menonton TV serta dapur.


Secara normatif, pembagian ruang-ruang rumah ini tak ada yang bermasalah. Apalagi bertentangan dengan norma-norma sosial yang kami anut.  Namun, dalam rancangan pembagian dan letak arsitektur ruang-ruang ini patut menjadi perhatian. Untuk lebih jelasnya perhatikan sketsa rumah sederhana berikut ini:




Jika kita perhatikan sketsa tersebut posisi ruang perempuan secara arsitektural berdekatan bahkan bersentuhan langsung dengan dapur. Bandingkan dengan ruang laki-laki yang secara teritori berada di depan atau di muka rumah. Bahkan, beberapa rumah dapat dijumpai ruang laki-laki sengaja didesain persis sejajar dengan teras atau beranda rumah. Konon anggapan masyarakat, karena anak laki-laki (remaja, dewasa) biasanya sering pulang rumah larut malam. Tentu agar tidak mengganggu penghuni rumah yang lagi beristirahat anak lelaki diberikan keleluasaan atau semacam privelese dalam dimensi tata ruang rumah.

Seorang antroplog, Marcel Danesi, mengatakan, masyarakat pada dasarnya memandang rumah tak lagi sekadar tempat perlindungan, berteduh, atau tumpukan material-material seperti batu, kayu, beton, seng, dan sebagainya. Rumah juga diasosiasikan sebagai penanda identitas sosial yang memberi makna spesifik dalam pandangan budaya tertentu.
Di internal fisik rumah seperti telah diuraikan di atas kita bisa sederhanakan menjadi ruang-ruang entah yang bersifat privat dan sosial. Zona-zona di dalam rumah tentu saja adalah sebuah tanda. Tanda itu lalu didistribusikan menjadi kode-kode ruang. Kode-kode itu sendiri bisa terdiri dari pelbagai varian. Bergantung pada desain arsitektural sebuah rumah. Saya tak akan fokus pada arsitektur rumah corak urban karena sistem budaya dan kehidupannya penuh kompleksitas. Sementara  dibandingkan dengan masyarakat pedesaan kemungkinan besar konsep arsitektur rumah masih mewakili seperti terlihat pada sketsa di atas.

Kode-kode rumah mencakup dua kategori utama (berdasar pada sketsa di atas) kode ruang privat/pribadi dan kode ruang sosial keluarga. Masing-masing kode ini memberi makna interaksi yang berbeda. Seperti wilayah pribadi mengatur cara interaksi di ruang pribadi sementara ruang sosial keluarga berkaitan dengan interaksi antarsesama anggota keluarga. Dalam konteks inilah Marcel Danesi mengatakan kode ruang antarpribadi juga mengatur orientasi badaniah. Marcel Danesi mencontohkan jika seseorang berdiri di hadapan sebuah audiens, ia dianggap lebih penting dari mereka yang duduk. Pejabat, manajer, direktur duduk di belakang meja untuk memberi kesan penting dan superioritas. Lebih jelasnya, ruang-ruang domestik didefinisihkan menurut fungsinya: ada ruang untuk istirahat, ruang bersantap, dan ruang bukan manusia semisal garasi untuk kendaraan, dsb. Masing-masing ruang ini pun merepresentasikan bias gender.   

Memperkokoh Ideologi Familialisme

Perempuan dalam budaya patriarki selalu diletakkan dalam posisi subordinat. Budaya ini merupakan bentuk pelanggengan ideologi maskulinitas yang menempatkan lelaki/pria superior dibanding perempuan. Ideologi ini bukannya tanpa masalah, karena pada prinsipnya perempuan semakin tersudut dalam ruang perebutan wacana publik baik dibidang ekonomi, politik, sosial, dsb. 

Di lingkup yang lebih kecil, di rumah, ideologi maskulin mengejawantah dalam bentuk penataan ruang. Seperti contoh di atas, perempuan semakin terpojok dalam tata ruang yang secara langsung mengidentifikasi peran-peran sosial. Ruang perempuan yang berhimpit dengan dapur turut mengokohkan posisi perempuan yang identik dengan perkara-perkara domestik.

Perempuan diajarkan menjadi anak yang baik, anak rumahan, lembut, dan segala keterampilan lainnya seperti memasak, mencuci, dsb. Jika ada anak perempuan yang keluar dari jalur tersebut bisa dibayangkan bagaimana streotip masyarakat menilai perempuan tersebut? Bisa dipastikan si anak bakal mendapat kecaman, teguran, dan sederet pandangan negatif lainnya.

Selain budaya, media massa juga turut mereproduksi justifikasi domestik. Dalam tayangan TV seperti sinetron, perempuan selalu dilakonkan sebagai mahkluk penurut, pandai menghibur suami, anak rumah yang harus pandai memasak. Citra ideal inilah yang melekat dalam tubuh perempuan. 

Seiring dengan perkembangan kapitalisme yang meroket, wilayah domestik ini juga turut terkomodifikasi dalam bentuk yang lebih estetis. Perabot-perabot dapur yang canggih saat ini mudah dijumpai dan menjadi aksesori menarik yang turut memperindah wilayah domestik. Perempuan dibuat senyaman mungkin berlama-lama di dapur. Tak jarang kemudian, pengalaman kebudayaan di tempat saya, masyarakat biasanya lebih serius merias “area-area belakang” tersebut dibanding dengan “area-area depan”. Kita dengan mudah menjumpai rumah-rumah yang memiliki area belakang (dapur) yang luas dan menarik ketimbang ruang-ruang lainnya.

Di sana, juga ada ungkapan populer yang jika di Indoensia-kan kira-kira seperti ini “perempuan biar pun sekolah tinggi-tinggi, pulang ke rumah harus menjaga dapur”. Ungkapan itu seolah menjadi mitos yang kebenarannya tak perlu lagi divalidasi. Bagi kaum pria, anggapan itu tentu saja menguntungkan sebab ruang-ruang publik tak akan jatuh dipelukan wanita. Sementara, bagi perempuan, sebagian merasa keberatan. Contohnya misalkan, di tetangga saya kebetulan punya anak perempuan yang bisa dikategorikan cerdas secara intelek. Ketika usai tamat SMA, ia bercita-cita ingin melanjutkan studi keluar daerah. Tentu, keinginannya ini amat mulia. Namun, kenyataan pahit harus diterimanya tatkala orangtuanya tak setuju. Karena dengan alasan yang hampir identik dengan ungkapan tersebut. 

                                                                     
                                                                                                     



0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More