![]() |
Oleh Sugianto
"Kita membentuk bangunan, selebihnya merekalah
"Kita membentuk bangunan, selebihnya merekalah
yang membentuk kita". (Sir Winston Churcill)
Rumah sebagaimana lazim dipahami orang sebagai
wilayah bebas nilai yang minus ancaman, diskriminasi, proteksi dan lain
sebagainya ternyata tidak sepenuhnya benar. Sekadar berbagi cerita kebudayaan,
saya akan menarasikan pengalaman hidup yang berkaitan dengan wacana gender.
Saya lahir dan besar di sebuah daerah terpencil di
sebelah tenggara pulau Sulawesi, tepatnya di Tomia. Tomia adalah salah satu dari
empat gugusan pulau yang menghuni kabupaten Wakatobi. Sebagai negeri kepulauan, kami bisa dibilang
sebagai masyarakat pesisir. Namun, dari dimensi varian kerja, mayoritas
masyarakatnya pebisnis ketimbang pelaut.
Dari konstruksi rumah, sebenarnya tak ada yang
unik. Lazimnya sebuah rumah akan terdiri dari beberapa ruang-ruang sebagai
penanda interaksi sosial, baik yang bersifat intim-privat, keluarga, dan ruang
publik. Sederhananya bisa dicontohkan seperti ruang tamu, kamar anak laki-laki,
kamar anak perempuan, kamar orang tua, ruang tempat menonton TV serta dapur.
Secara normatif, pembagian ruang-ruang rumah ini tak ada yang bermasalah. Apalagi bertentangan dengan norma-norma sosial yang kami anut. Namun, dalam rancangan pembagian dan letak arsitektur ruang-ruang ini patut menjadi perhatian. Untuk lebih jelasnya perhatikan sketsa rumah sederhana berikut ini:
Jika kita perhatikan sketsa tersebut posisi ruang
perempuan secara arsitektural berdekatan bahkan bersentuhan langsung dengan
dapur. Bandingkan dengan ruang laki-laki yang secara teritori berada di depan
atau di muka rumah. Bahkan, beberapa rumah dapat dijumpai ruang laki-laki
sengaja didesain persis sejajar dengan teras atau beranda rumah. Konon anggapan
masyarakat, karena anak laki-laki (remaja, dewasa) biasanya sering pulang rumah
larut malam. Tentu agar tidak mengganggu penghuni rumah yang lagi beristirahat
anak lelaki diberikan keleluasaan atau semacam privelese dalam dimensi tata
ruang rumah.
Seorang antroplog, Marcel Danesi, mengatakan,
masyarakat pada dasarnya memandang rumah tak lagi sekadar tempat perlindungan,
berteduh, atau tumpukan material-material seperti batu, kayu, beton, seng, dan
sebagainya. Rumah juga diasosiasikan sebagai penanda identitas sosial yang
memberi makna spesifik dalam pandangan budaya tertentu.
Di internal fisik rumah seperti telah diuraikan di
atas kita bisa sederhanakan menjadi ruang-ruang entah yang bersifat privat dan
sosial. Zona-zona di dalam rumah tentu saja adalah sebuah tanda. Tanda itu lalu
didistribusikan menjadi kode-kode ruang. Kode-kode itu sendiri bisa terdiri
dari pelbagai varian. Bergantung pada desain arsitektural sebuah rumah. Saya
tak akan fokus pada arsitektur rumah corak urban karena sistem budaya dan
kehidupannya penuh kompleksitas. Sementara
dibandingkan dengan masyarakat pedesaan kemungkinan besar konsep
arsitektur rumah masih mewakili seperti terlihat pada sketsa di atas.
Kode-kode rumah mencakup dua kategori utama
(berdasar pada sketsa di atas) kode ruang privat/pribadi dan kode ruang sosial
keluarga. Masing-masing kode ini memberi makna interaksi yang berbeda. Seperti
wilayah pribadi mengatur cara interaksi di ruang pribadi sementara ruang sosial
keluarga berkaitan dengan interaksi antarsesama anggota keluarga. Dalam konteks
inilah Marcel Danesi mengatakan kode ruang antarpribadi juga mengatur orientasi
badaniah. Marcel Danesi mencontohkan jika seseorang berdiri di hadapan sebuah
audiens, ia dianggap lebih penting dari mereka yang duduk. Pejabat, manajer,
direktur duduk di belakang meja untuk memberi kesan penting dan superioritas. Lebih
jelasnya, ruang-ruang domestik didefinisihkan menurut fungsinya: ada ruang
untuk istirahat, ruang bersantap, dan ruang bukan manusia semisal garasi untuk
kendaraan, dsb. Masing-masing ruang ini pun merepresentasikan bias gender.
Memperkokoh Ideologi
Familialisme
Perempuan dalam budaya patriarki selalu diletakkan
dalam posisi subordinat. Budaya ini merupakan bentuk pelanggengan ideologi
maskulinitas yang menempatkan lelaki/pria superior dibanding perempuan. Ideologi
ini bukannya tanpa masalah, karena pada prinsipnya perempuan semakin tersudut
dalam ruang perebutan wacana publik baik dibidang ekonomi, politik, sosial,
dsb.
Di lingkup yang lebih kecil, di rumah, ideologi
maskulin mengejawantah dalam bentuk penataan ruang. Seperti contoh di atas,
perempuan semakin terpojok dalam tata ruang yang secara langsung
mengidentifikasi peran-peran sosial. Ruang perempuan yang berhimpit dengan
dapur turut mengokohkan posisi perempuan yang identik dengan perkara-perkara domestik.
Perempuan diajarkan menjadi anak yang baik, anak
rumahan, lembut, dan segala keterampilan lainnya seperti memasak, mencuci, dsb.
Jika ada anak perempuan yang keluar dari jalur tersebut bisa dibayangkan
bagaimana streotip masyarakat menilai perempuan tersebut? Bisa dipastikan si
anak bakal mendapat kecaman, teguran, dan sederet pandangan negatif lainnya.
Selain budaya, media massa juga turut mereproduksi
justifikasi domestik. Dalam tayangan TV seperti sinetron, perempuan selalu
dilakonkan sebagai mahkluk penurut, pandai menghibur suami, anak rumah yang
harus pandai memasak. Citra ideal inilah yang melekat dalam tubuh perempuan.
Seiring dengan perkembangan kapitalisme yang
meroket, wilayah domestik ini juga turut terkomodifikasi dalam bentuk yang
lebih estetis. Perabot-perabot dapur yang canggih saat ini mudah dijumpai dan
menjadi aksesori menarik yang turut memperindah wilayah domestik. Perempuan
dibuat senyaman mungkin berlama-lama di dapur. Tak jarang kemudian, pengalaman
kebudayaan di tempat saya, masyarakat biasanya lebih serius merias “area-area
belakang” tersebut dibanding dengan “area-area depan”. Kita dengan mudah
menjumpai rumah-rumah yang memiliki area belakang (dapur) yang luas dan menarik
ketimbang ruang-ruang lainnya.
Di sana, juga ada ungkapan populer yang jika di
Indoensia-kan kira-kira seperti ini “perempuan
biar pun sekolah tinggi-tinggi, pulang ke rumah harus menjaga dapur”.
Ungkapan itu seolah menjadi mitos yang kebenarannya tak perlu lagi divalidasi. Bagi
kaum pria, anggapan itu tentu saja menguntungkan sebab ruang-ruang publik tak
akan jatuh dipelukan wanita. Sementara, bagi perempuan, sebagian merasa
keberatan. Contohnya misalkan, di tetangga saya kebetulan punya anak perempuan
yang bisa dikategorikan cerdas secara intelek. Ketika usai tamat SMA, ia
bercita-cita ingin melanjutkan studi keluar daerah. Tentu, keinginannya ini
amat mulia. Namun, kenyataan pahit harus diterimanya tatkala orangtuanya tak
setuju. Karena dengan alasan yang hampir identik dengan ungkapan tersebut.





0 komentar:
Posting Komentar