“Bagaimana?”
Memeluk-Mu
Izinkan si penabur dosa ini
Melesat jauh di cakrawala yang tiada berujung
Berujar pada peraduan makna yang semakin hilang
tanpa menyisakan aroma tubuhmu
Menyingkap pintalan-pintalan kata getir yang ambigu
dalam butir-butir debu pada nafas yang ku hirup
Seraya bergumam “Apakah?”
Melesat dalam sajak dan dengung lebah yang tiada berjubah
Bergelimang keindahan seraya senyum sipesolek ulung di simpang jalan,
Deras mengalir dalam gema genderang yang bertalu masa,
Seraya bergumam “Kemanakah?”
Merangkuh lara dalam pintu yang belum terketuk?
Sementara pohon pengetahuan berdahan teks-teks menghijaukan alam,
Memanggil serta merayu pembawa perubahan?
Dalam teriakan “Kapankah?”
Linang air mata dalam jambangan yang retak
utuh pada sinisnya sudut matamu
Isak tangis melebur hingga perapian di malam dingin ini sobat
Begitu abadikah sedu sedan hingga tempo dan kompas tak menjadi tapal batas
Sarat dunia dengan nama, “Siapakah?”
Mengenang cinta dalam palung kisah
tersimpan begitu rapi dan wangi
Penyejuk dalam gerahnya rasa, penawar dalam pahitnya kematian asa
Pekikan dalam memori duka nestapa
Keterulangan yang tiada mau kan kembali “Mengapa?”
Gemericik cinta Mu bak kabut dalam ketakutan serta menggeret harap
Jikalau jambangan cinta dihujani panah yang melesat
Sedang bau amis darah menusuk hidung
Izinkan si penabur dosa ini
Memeluk-Mu
“Bagaimana?”
by Self



0 komentar:
Posting Komentar