Oleh Sugianto
Terbilang berabad yang lampau, seorang pujangga termasyhur yang hidup di Kasunanan Surakarta, Ronggowarsito, meramalkan akan datangnya Ratu Adil dan Satrio Piningit, seorang pemimpin yang memiliki jiwa kesatria—berbudi pekerti luhur, adil, bijaksana, mengayomi, suci, dan dekat dengan rakyat yang dipimpinnya.
Ramalan yang dikenal dengan ramalan Jayabaya itu meski dilahirkan di zaman di mana mitologis (baca: supranatural) masih menjadi kiblat diskursus masyarakat dominan, tetap saja hingga kini ketika zaman berupaya sekuat mungkin mengubur mitos dengan rasionalisme yang menekankan uji dan validitas kebenaran lewat logika empirisisme, sebagian besar masyarakat masih memercayai ramalan itu.
Dalam wilayah politik pun di mana nasib berjuta manusia di perbincangkan dan diputuskan yang seharusnya steril dari wilayah metafisik tetap saja tak bisa sepenuhnya memisahkan diri darinya. Termasuk dalam helatan pemilihan gubernur (Pilgub) DKI Jakarta periode 2012-2017 beberapa waktu lalu wacana itu tak hanya sekadar omong-omongan warga kelas bawah di warung kopi, namun merambah luas menjadi percakapan kelas menengah yang dibincangkan mulai dari jejaring sosial dunia maya hingga ke televisi.
Tentu saja Satrio Piningit ‘versi moderen’ yang didiskursuskan banyak orang melekat kuat pada profil Joko Widodo (Jokowi) yang bersama Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)—diusung PDIP dan Gerindra—keluar menjadi kampiun setelah melewati hadangan terakhir Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli—yang didukung oleh multipartai—pada putaran kedua Pilgub DKI. Jarang sekali seorang politikus ‘new comer’ mengalahkan politikus incumbent— notabene memiliki sumberdaya politik untuk memenangkan kontestasi—setidaknya ditilik dari epos Pilgub-Pilkada lebih dari sewindu praktik desentralisasi.
Tak tanggung-tanggung para tim sukses atau simpatisan Jokowi yang membludak di markas pemenangan Jokowi di Jalan Borobudur 22 Jakarta meski mengetahui suara ‘jagoannya’ mengungguli Foke-Nara, 54 % berbanding 46 %, lewat hasil quick count lembaga-lembaga survei (20/10/12). Mereka gegap-gempita bernyanyi, membentang poster dan spanduk-spanduk yang mengasosiasi Jokowi sebagai seorang Satria Piningit.
Jokowi sang fenomenal. Kalimat itu memang bombastis. Jauh hari sebelum menjadi orang nomor satu di DKI Jakarta, predikat itu telah disandang (inilah.com/5/1/12). Sewaktu Jokowi masih Wali Kota Solo, ia sudah menjadi figur politik yang banyak disorot media karena seni kepemimpinannya yang populis. Ia tak segan ‘berlumpur ria’ yang ia istilahkan “blusukan” bersama wong cilik. Kesehariannya tampil bersahaja. Serta gaya berbahasanya yang sederhana menarik simpati kalangan akar rumput.
Seni kepemimpinan yang merakyat itulah ia mampu menyulap Solo menjadi rumah yang nyaman bagi Pedagang Kaki Lima (PKL), tukang becak, buruh, bahkan seni dan budaya. Atas alasan itulah majalah Tempo memasukan Solo sebagai satu dari sembilan daerah bintang—daerah yang berhasil membangun dan menata warga dalam praktik otonomi daerah.
Sepak terjang politik Jokowi memang menimbulkan enigma bagi para pewarta. Hampir setiap hari media menurunkan liputan tentang Jokowi, entah sebagai pejabat publik maupun pribadi. Ia diberitakan dari urusan politik hingga ke konstruk tubuh. Wajar karena seperti diakui oleh pelaku media popularitas Jokowi memang menggugah sekaligus menguntungkan pundi-pundi bisnis media.
Ia pun menjelma laiknya ‘selebriti politik’ yang menarik para paparazi dan pekerja infotainment, menguntit keseharian Jokowi. Diskursus Jokowi pun merambah hingga ke tingkatan gosip. Dengan setengah sinis, sebagian orang menyebutnya ‘Jokowi-tainment’.
Lepas dari perkara pencitraan, seperti kegandrungan laku politik pascareformasi, baru-baru ini BBC Asia menahbiskan Jokowi sebagai Obama’s Jakarta (23/1/13). Obama-nya Jakarta. Seperti Obama, presiden Amerika yang populer itu, Jokowi juga tak kalah masyhur. Di tengah deras banjir melanda Jakarta baru-baru ini hingga menggenangi Istana Kepresidenan RI yang ‘seolah’ menyambut 100 hari kerja Jokowi-Ahok tak serta-merta membuat Jokowi-Ahok dibanjiri hujan kritik. Bermodal rakit styrofoam Jokowi ‘berbasah-basahan’ menyambangi para korban banjir.
Media Darling
Berbeda dengan banjir-banjir di Jakarta sebelumnya yang menuai banjir narasi kritik pedas terhadap pemerintah yang berkuasa, seperti yang dialami Foke saat menjabat Gubernur Jakarta. Fenomena apakah ini? Media darling. Kesayangan media. Begitulah diskursus dominan yang muncul ke permukaan merespon Jokowi yang seolah menjalin hubungan mesra dengan media.
Media darling bisa dibilang bukanlah fenomena baru. Barack Obama, Presiden AS yang mashyur itu menjadi kampiun, salah satunya karena kedekatannya dengan media massa. Para rival politiknya tentu saja berang. Mau apa lagi, Obama menjadi ikon yang menarik diperbincangkan masyarakat AS.
Istilah media darling, seperti dilansir wiktionary.org ialah a celebrity who is especially popular and who receive frequent and very favorable attention in the news media. Awalnya istilah itu disematkan kepada para pesohor. Selebriti. Meski belakangan ini, istilah tersebut sudah melantas ke gelanggang politik.
Tubuh politik saat ini pun kian absurd. Kini, untuk menjadi politisi, di zaman digital ini, tak cukup bermodal keluhuran budi, ketulusan mengabdi, piawai memimpin dan berpihak ke orang-orang kecil. Model tampang juga perlu dipoles. Kadang dalam derajat tertentu, yang satu ini, lebih mujarab. Meski tampang, di era citra ini, bukanlah sesuatu yang statis. Ia selalu bergerak, mengikuti mode ‘popularitas’ dalam jagat industri budaya yang tak pernah diam.
Kadang ada masanya, dalam industri budaya, yang lalim berubah alim, pengecut berubah pahlawan, penakut jadi pemberani, tiran jadi pahlawan dan pelawak jadi pemimpin. Mode yang ganjil itu bisa berlangsung dalam tempo cepat. Tentu saja watak seperti ini amat jauh dari kehidupan politik zaman dulu, di mana teknologi masih terbatas.
Dan para politisi paham akan mode itu. Mereka pun berlomba mempermak diri. ‘Salon-salon’ politik tumbuh subur. Ibarat sulap: para tuan yang rakus pun tiba-tiba jadi dermawan, pelanggar HAM berat pun menampakkan diri seorang humanis, dan para koruptor ranjing berderma ke masjid-masjid.
Citra bagaimanapun kemasan bentuk dan rupanya tak akan mampu mengelabui masyakarakat secara beruntun. Karena citra pada dasarnya adalah paradoks. Antara yang tampak dan tersembunyi selalu mengalami tegangan yang tak pernah akur.
Apakah Jokowi sadar akan mode politik seperti itu? Sebagai politisi tentu saja ia sadar. Namun Jokowi barangkali tak perlu cemas dengan perkara citra yang kerap dihembuskan lawan-lawan politiknya. Sebab, rekam-jejaklah yang tak akan pernah membohongi rakyat. Jokowi, di Solo, setidaknya sudah membuktikan percik-percik idealisme politik.
Tak hanya itu, Jokowi bersama para tokoh-tokoh politik lokal lain yang berprestasi membangun daerahnya, membuat suluh otonomi daerah (desentralisasi) yang berjalan lebih satu dekade, yang semula samar bahkan buram karena janji-janjinya yang kerap membual, perlahan menyala dan terang. Semoga ideal politik seperti itu menjadi prototipe generasi muda bangsa ke depan.
Meski kita maklum, di dunia politik, para politikus, seperti Jokowi misalnya, tak pernah absen dari kerikil-kerikil kealpaan. Sebab di dunia politik, tak ada politikus yang seratus persen bersih.




0 komentar:
Posting Komentar