Akhir-akhir ini kita kian galau. Tak hanya karena pagar pongah yang terus mencungkil nalar sehat kita semenjak berdiri. Ia menorehkan jejak ambiguitas yang menginjak akal sehat: mengapa bisa begitu? Bukankah pagar depan yang mesti dipugar seperti aspirasi mahasiswa saat Kongres? Masih waraskah mereka yang konon para intelektual itu?
Belum persoalan itu tuntas. Baru-baru ini santer tersiar kabar, jika kantin dalam beberapa bulan ke depan bakal ditutup. Bukan karena penjualnya mangkir membayar “upeti”, bukan pula karena menderita kerugian. Adalah Kampus begitu bernafsu memburu keuntungan karena kantin dinilai hanya secuil membawa berkah. Sehingga mereka menggandeng pebisnis makanan (konon Popeye, bisnis ayam goreng) yang lebih menjanjikan pemasukan.
Logika macam apa lagi dibalik kebijakan ini? Kita mahfum, para pemerhati pendidikan kini gundah-gulana menyaksikan manuver gila-gilaan dunia pendidikan di negeri ini, karena nalar dan orientasinya tak lagi berpijak pada cita-cita mulia seperti yang diimpikan Freire: pendidikan akan memanusiakan manusia. Melainkan bisnis. Mustahil membayangkan ambisi kaum Marxian, bahwa embrio kesadaran manusia (kelas) bakal lahir lewat rahim pendidikan yang berwatak predator.
Mungkin karena watak inilah sebagai warga cendekia yang baru hendak menatap masa begitu polosnya dimainkan para predator. Wajar jika tatapan mata-mata yang tiap saat berkhotbah pengetahuan tak lagi tulus dalam mendidik, begitulah satiran seorang rekan.
Lantas apa di benak mereka tentang kantin? Pernahkan mereka tetirah di tempat ini? Butakah mereka terhadap realitas di tempat lalu lintasnya ragam wacana ini? Kalau mau jujur di sinilah arena the real classroom. Di tempat inilah kami leluasa berbincang tanpa rasa takut, khawatir, dan was-was. Ditemani secangkir kopi hitam dengan asap rokok mengepul esensi Student Center Learning (SCL) yang dulu berbusa-busa keluar dari bibir para intelektual itu malah mengada. Bukan di ruang kelas konvensional yang sarat kekakuan akademik―bahkan ruang kelas yang terlalu dimonopoli tafsir, mengarah pada kediktatoran wacana.
Di arena inilah kami saling mendebat dan mengkritisi tentang sesuatu. Tak pelak di ruang inilah wajah-wajah eksistensial kami menampakkan diri. Tanpa tendensi menggurui bahkan takut akan kekeliruan. Dari sini pulalah jika kita hendak berkaca kisah-kisah perubahan sosial di Eropa kerap dimulai dari warung-warung kopi sederhana bukan dari ruang ritel-ritel kapital yang sering kali minus dari dimensi kemanusiaan. Apalagi mohon maaf apa jadinya kami dibesarkan oleh makanan-makanan sampah (junk food) seperti itu.
Hanya mereka yang tahu atau Tuhan yang bersemayam dibenak mereka. Begitulah nada pesimisme yang kerap terlontar. Sebab para warga cendekia tak tahu kemana arah yang hendak dituju kampus ini. Mungkin mirip seperti ejekan Donny Gahral Aldian terhadap “republik tanpa nakhoda”. Bukankah narasi demokrasi seperti yang kita kunyah tiap saat di kelas bertumpu pada pengalaman hidup mereka yang tertindas? Jika demikian kampus sebagai ruang intelektual tak seharusnya mengabaikan suara mahasiswa. Ataukah kampus dan mahasiswa ibarat sebuah oposisi biner yang selalu “meniadakan” satu sama lainnya? Entahlah. Yang jelas sebagai mahasiswa jangan sampai ruang publik kita di rebut paksa oleh monster-monster kapital yang pada gilirannya menyeret kita pada lanskap penindasan yang minus ekspresi kebebasan. Hanya ada satu kata kawan: LAWAN!!!
Belum persoalan itu tuntas. Baru-baru ini santer tersiar kabar, jika kantin dalam beberapa bulan ke depan bakal ditutup. Bukan karena penjualnya mangkir membayar “upeti”, bukan pula karena menderita kerugian. Adalah Kampus begitu bernafsu memburu keuntungan karena kantin dinilai hanya secuil membawa berkah. Sehingga mereka menggandeng pebisnis makanan (konon Popeye, bisnis ayam goreng) yang lebih menjanjikan pemasukan.
Logika macam apa lagi dibalik kebijakan ini? Kita mahfum, para pemerhati pendidikan kini gundah-gulana menyaksikan manuver gila-gilaan dunia pendidikan di negeri ini, karena nalar dan orientasinya tak lagi berpijak pada cita-cita mulia seperti yang diimpikan Freire: pendidikan akan memanusiakan manusia. Melainkan bisnis. Mustahil membayangkan ambisi kaum Marxian, bahwa embrio kesadaran manusia (kelas) bakal lahir lewat rahim pendidikan yang berwatak predator.
Mungkin karena watak inilah sebagai warga cendekia yang baru hendak menatap masa begitu polosnya dimainkan para predator. Wajar jika tatapan mata-mata yang tiap saat berkhotbah pengetahuan tak lagi tulus dalam mendidik, begitulah satiran seorang rekan.
Lantas apa di benak mereka tentang kantin? Pernahkan mereka tetirah di tempat ini? Butakah mereka terhadap realitas di tempat lalu lintasnya ragam wacana ini? Kalau mau jujur di sinilah arena the real classroom. Di tempat inilah kami leluasa berbincang tanpa rasa takut, khawatir, dan was-was. Ditemani secangkir kopi hitam dengan asap rokok mengepul esensi Student Center Learning (SCL) yang dulu berbusa-busa keluar dari bibir para intelektual itu malah mengada. Bukan di ruang kelas konvensional yang sarat kekakuan akademik―bahkan ruang kelas yang terlalu dimonopoli tafsir, mengarah pada kediktatoran wacana.
Di arena inilah kami saling mendebat dan mengkritisi tentang sesuatu. Tak pelak di ruang inilah wajah-wajah eksistensial kami menampakkan diri. Tanpa tendensi menggurui bahkan takut akan kekeliruan. Dari sini pulalah jika kita hendak berkaca kisah-kisah perubahan sosial di Eropa kerap dimulai dari warung-warung kopi sederhana bukan dari ruang ritel-ritel kapital yang sering kali minus dari dimensi kemanusiaan. Apalagi mohon maaf apa jadinya kami dibesarkan oleh makanan-makanan sampah (junk food) seperti itu.
Hanya mereka yang tahu atau Tuhan yang bersemayam dibenak mereka. Begitulah nada pesimisme yang kerap terlontar. Sebab para warga cendekia tak tahu kemana arah yang hendak dituju kampus ini. Mungkin mirip seperti ejekan Donny Gahral Aldian terhadap “republik tanpa nakhoda”. Bukankah narasi demokrasi seperti yang kita kunyah tiap saat di kelas bertumpu pada pengalaman hidup mereka yang tertindas? Jika demikian kampus sebagai ruang intelektual tak seharusnya mengabaikan suara mahasiswa. Ataukah kampus dan mahasiswa ibarat sebuah oposisi biner yang selalu “meniadakan” satu sama lainnya? Entahlah. Yang jelas sebagai mahasiswa jangan sampai ruang publik kita di rebut paksa oleh monster-monster kapital yang pada gilirannya menyeret kita pada lanskap penindasan yang minus ekspresi kebebasan. Hanya ada satu kata kawan: LAWAN!!!




0 komentar:
Posting Komentar