Oleh Sugianto
Gregorius Agung adalah seorang Paus Gregorius I Gereja Katolik Roma di abad ke 5. Selain biarawan yang taat, ia juga seorang musisi. Seperti dicatat FH Dudden, Gregorius ialah seorang santo, pelindung para musisi, penyair, pelajar, dan guru.
Di masa hidupnya, Paus yang dihormati di tanah Britania ini tekun menulis dan menyalin ratusan lagu gereja dalam notasi yang ‘ganjil’—notasi Gregorian, notasi yang diciptakannya. Ganjil karena notasi ini monofoni. Nada tunggal. Menafikan elan rasa sang penyanyi. Konon, inilah muasal notasi dalam narasi musik.
Meski begitu, dari situ, setidaknya sejarah awal lahirnya musik perlahan terang. Karena sebelum Gregorius, riwayat musik tak pernah terang. Dari Gregorius pulalah, banyak komponis, setelah kematiannya, bersama para biarawan menggubah lagu-lagu Paus Gregorius I itu menjadi lagu populer hingga abad pertengahan yang menghiasi gereja Roma.
Barulah setelah notasi Gregorian dirasa tak lagi mewakili semangat zaman yang terus bergerak, notasi polifoni ditemukan serta notasi-notasi yang lebih kompleks. Musik pun lahir dan mekar dalam varian genre: rock, slowrock, rock alternative, rap, jazz, regge, underground, metalic, country, pop. Dan khusus di kawasan Melayu ada dangdut dan pop Melayu.
Namun musik barangkali tak selamanya hanya notasi. Seperti Paus Agung itu, meski notasinya tunggal, musik baginya tetaplah sebuah adimarga. Sebuah jalan lapang untuk menguar ekspresi dan kehendak manusia. Bagi gereja, musik barangkali ialah ekspresi lubuk jiwa manusia menuju tuhannya. Gereja dan musik muskil dipisahkan.
Karena sebuah luapan, musik lekat pula dengan pengingkaran. Orang kulit putih mengukuhkan tahta lewat musik. Orang kulit hitam merebut persamaan dengan musik. Bob Marley ‘mensucikan’ kaum pinggiran. Melayu ‘mendayu’ logat orang ‘timur’.
Tapi seperti sekat modernitas yang kokoh itu, yang dominan dan pinggiran tetaplah bersebelahan. Yang satu di atas, yang lain di bawah. Yang satu agung, yang lain murahan. Musik juga memiliki pagar-pagar. Ada musik ‘tinggi’, ada musik ‘rendahan’. Masing-masing berpaut pada ideologinya. Jadilah musik wilayah pertempuran ideologi yang tak habis-habisnya. Dan pertempuran tampaknya telah dimenangkan ideologi dominan. Adalah kapitalisme—ideologi yang sakit dan penuh keganjilan tapi dielu manusia moderen—yang memenangkan ‘perang’ itu.
Di lengan kapital, musik meruah. Pagar pemisah ambrol. Lantas yang tinggal hanyalah leburan puing-puing. Kini kita menikmati pop sekaligus dangdut. Keroncong sekaligus slow rock. Lenyapnya batas-batas.
Musik melejit dalam tempo cepat. Dalam satu pekan di MTV, misalnya, tangga musik rentan beralih, secepat ‘anak tangga’ saat dimainkan. Kapitalisme bertumpu pada produksi dan konsumsi. Digerakkan mesin hasrat manusia yang tak pernah padam.
Saat hasrat menjadi ideologi, teks dan musikus kadang tak lagi ‘akur’. Adakalanya syair harus tunduk pada yang ‘lain’, bukan pada ‘tuannya’, sebab ‘the other’ menentukan laku komoditi. Di sini, kita, the other, konsumen, seolah punya otoritas. Sebab, “Konsumen adalah raja,” begitulah salam hangat para ‘empunya’. Dan kita tahu itu hanyalah muslihat. Sebab, tonggak kuasa selalu berdiri kokoh pada mereka yang diistilahkan Marx sebagai The haves.
Merekalah yang menentukan pantas tidaknya sebuah notasi dan syair. Mereka digerakkan bukan oleh hukum apresiasi karya. Namun logika komoditas yang bersuluh di sumbu gelora hasrat kapital. Dan Derrida mencatat, the dead of author, kematian sang pengarang, meski pada konteks yang lain. Musikus, sang pengarang, tampaknya juga mengalami demikian. Mereka mesti berkompromi.
Bagi pengarang, syair harus tetap eksis. Di jalan ini, ada yang kukuh dan ambruk. Mereka yang kukuh harus rela tersisih dari manisnya pundi-pundi kapital. Mereka yang ambruk berlumur prestise, ketenaran dan uang. Sayangnya, kita terus menikmati syair yang lahir dari sini. Syair estetiskah? Tidak! Jika kita masih berpegang pada nilai adiluhung.
Melodi yang merdu itu memang akhirnya tak selamanya melodius. Iramanya ritmis meski dalam wujud yang serupa. Enak dan nyaman. Dan itu kini menyergap kita. Dan kita terus menikmati syair melodius itu dalam rupa paradoks; di kakus, di kelas, di warung makan, di atas kasur. Di manapun.
Tanpa sadar, kita pun diam-diam digiring ke dunia yang asing, tapi mengasyikkan. Dunia konsumerisme. Kita pun enggan menengok sekeliling yang dililit ragam masalah. Kita amat iba saat seorang musisi ditimpa prahara, sementara abai saat prahara menubuh di negeri kita.
Akhirnya, seperti notasi Gregorian yang tunggal itu, notasi yang ritmis dan melodius sekalipun malahan kian ganjil. Tapi Gregorius ‘bermusik’ terpanggil oleh ekspresi diri yang jujur dan bersahaja kepada ilahi. Inilah yang luput dari tubuh musikus kini. Kita memang tak bisa dan tak mungkin menjadi Gregorius. Tapi bermusik karena dorongan nurani bukan mustahil bisa dilakukan. Meski kita paham, kita hidup di tengah zaman ‘kapital’ yang tak religius ini. Namun, tak mustahil pula melodius itu kembali lahir di rahim estetika seni. Lebih-lebih lahir di rahim nurani kemanusiaan.