Sabtu, 23 Februari 2013

Perempuan dalam "Sangkar Emas" Rumah





Oleh Sugianto

"Kita membentuk bangunan, selebihnya merekalah
  yang membentuk kita". (Sir Winston Churcill) 

Rumah sebagaimana lazim dipahami orang sebagai wilayah bebas nilai yang minus ancaman, diskriminasi, proteksi dan lain sebagainya ternyata tidak sepenuhnya benar. Sekadar berbagi cerita kebudayaan, saya akan menarasikan pengalaman hidup yang berkaitan dengan wacana gender. 

Saya lahir dan besar di sebuah daerah terpencil di sebelah tenggara pulau Sulawesi, tepatnya di Tomia. Tomia adalah salah satu dari empat gugusan pulau yang menghuni kabupaten Wakatobi.  Sebagai negeri kepulauan, kami bisa dibilang sebagai masyarakat pesisir. Namun, dari dimensi varian kerja, mayoritas masyarakatnya pebisnis ketimbang pelaut. 

Dari konstruksi rumah, sebenarnya tak ada yang unik. Lazimnya sebuah rumah akan terdiri dari beberapa ruang-ruang sebagai penanda interaksi sosial, baik yang bersifat intim-privat, keluarga, dan ruang publik. Sederhananya bisa dicontohkan seperti ruang tamu, kamar anak laki-laki, kamar anak perempuan, kamar orang tua, ruang tempat menonton TV serta dapur.


Terkikisnya Etika Politik

Oleh Sugianto

Fenomena penolakan usulan calon gubernur Bank Indonesia oleh parlemen adalah sederet potret buram etika politik parlemen selama ini. Seharusnya, parlemen memprioritaskan kepentingan rakyat di tengah krisis moneter yang mendera bangsa ini.

Etika politik yang seharusnya menjadi tembok atas kesewenang- wenangan politik hanya menjadi pemanis bibir oleh wakil rakyat. Tujuan pragmatis demi kepentingan sesaat diutamakan daripada kepentingan rakyat banyak. Seharusnya, para wakil rakyat tidak arogan dengan posisinya yang merasa superior di hadapan presiden. Penolakannya hanya akan memunculkan problematika baru di kancah perpolitikan negeri ini. Karena, hal ini akan memicu ketegangan suhu politik yang semakin memanas menjelang berakhirnya periode kekuasaan.

Penolakan terhadap kedua calon itu cenderung memicu spekulasi bahwa para politikus di DPR lebih menonjolkan kepentingan sendiri. Soalnya, kedua kandidat sebenarnya memiliki kemampuan, manajerial, pengetahuan moneter, dan integritas untuk memimpin sebuah bank sentral. Namun, anggota parlemen diduga lebih menyukai calon yang sanggup menebar fulus berlimpah demi memuluskan roda partai menjelang Pemilu 2009 (Tempointeraktif, 26/4).

Terlepas dari persoalan kredibilitas kedua calon yang diusung presiden, hendaknya wakil rakyat berkaca atas persoalan lain yang jauh lebih urgen di negeri ini. Ironis memang, ketika harga bahan pokok melambung tinggi, gizi buruk mendera, potret kemiskinan yang memilukan dada seakan tidak tergubris oleh hati kecil mereka. Tragedi traumatis sosial hanya menjadi tontonan di berbagai media massa. Pemangku kebijakan memalingkan muka melihat kondisi negeri ini yang semakin lama semakin memprihatinkan. Bahkan, suasana di parlemen adem ayem saja meskipun berbagai demonstrasi berkecamuk di jalan-jalan.

Oke, kita sepakat dengan penilaian kritis yang dilakukan oleh parlemen terhadap calon gubernur BI karena memang posisi BI sebagai sentral perputaran finansial amatlah signifikan. Akan tetapi, penilaiannya pun dianggap kurang rasional karena harus terlunta- lunta beberapa hari. Apalagi, sikap atas penolakan terhadap calon gubernur BI dinilai karena didasarkan pada kepentingan politik tertentu.

Moralitas institusi dikorbankan demi keangkuhan dan motif kekuasaan yang kerap menimbulkan konflik di tengah tuntutan rakyat yang menghendaki kesejahteraan. Tak pelak lagi, ruang politik Senayan menuju jurang kebiadaban. Akhirnya, rakyatlah yang merasakan dampaknya.

Di tengah transisi masyarakat menuju tatanan demokrasi yang diharapkan memberikan perbaikan kondisi sosial-politik bangsa, tidak paralel dengan etika politik institusi sebagai pilar demokrasi. Walhasil, perubahan yang diimpi-impikan jauh dari kenyataan. Betapa pentingnya etika politik dalam mengawal masa transisi ini masih saja diabaikan oleh parlemen.

Padahal, mereka dipilih oleh rakyat dan seharusnya pula mengabdi pada rakyat, bukan pada kelompok atau partai politik tertentu. Kenyataannya, polemik calon gubernur BI yang terjadi di Senayan adalah surutnya etika politik para wakil rakyat. Sebaiknya, parlemen tak harus membiarkan persoalan itu berlarut-larut, apalagi tanpa alasan yang jelas. Parlemen harus tetap menyokong kebijakan eksekutif. Bukan berarti menelan mentah-mentah, melainkan melalui penilaian kritis yang rasional dan efektif karena masih banyak pekerjaan rumah di negeri ini yang harus segera diselesaikan.

Tulisan ini pernah dimuat di Kompas-Jogja 11 April 2008 

Melodius

Oleh Sugianto

Gregorius Agung adalah seorang Paus Gregorius I Gereja Katolik Roma di abad ke 5. Selain biarawan yang taat, ia juga seorang musisi. Seperti dicatat FH Dudden, Gregorius ialah seorang santo, pelindung para musisi, penyair, pelajar, dan guru.

Di masa hidupnya, Paus yang dihormati di tanah Britania ini tekun menulis dan menyalin ratusan lagu gereja dalam notasi yang ‘ganjil’—notasi Gregorian, notasi yang diciptakannya. Ganjil karena notasi ini monofoni. Nada tunggal. Menafikan elan rasa sang penyanyi. Konon, inilah muasal notasi dalam narasi musik.

Meski begitu, dari situ, setidaknya sejarah awal lahirnya musik perlahan terang. Karena sebelum Gregorius, riwayat musik tak pernah terang. Dari Gregorius pulalah, banyak komponis, setelah kematiannya, bersama para biarawan menggubah lagu-lagu Paus Gregorius I itu menjadi lagu populer hingga abad pertengahan yang menghiasi gereja Roma.

Barulah setelah notasi Gregorian dirasa tak lagi mewakili semangat zaman yang terus bergerak, notasi polifoni ditemukan serta notasi-notasi yang lebih kompleks. Musik pun lahir dan mekar dalam varian genre: rock, slowrock, rock alternative, rap, jazz, regge, underground, metalic, country, pop. Dan khusus di kawasan Melayu ada dangdut dan pop Melayu.   

Namun musik barangkali tak selamanya hanya notasi. Seperti Paus Agung itu, meski notasinya tunggal, musik baginya tetaplah sebuah adimarga. Sebuah jalan lapang untuk menguar ekspresi dan kehendak manusia. Bagi gereja, musik barangkali ialah ekspresi lubuk jiwa manusia menuju tuhannya. Gereja dan musik muskil dipisahkan.

Karena sebuah luapan, musik lekat pula dengan pengingkaran. Orang kulit putih mengukuhkan tahta lewat musik. Orang kulit hitam merebut persamaan dengan musik. Bob Marley ‘mensucikan’ kaum pinggiran. Melayu ‘mendayu’ logat orang ‘timur’.

Tapi seperti sekat modernitas yang kokoh itu, yang dominan dan pinggiran tetaplah bersebelahan. Yang satu di atas, yang lain di bawah. Yang satu agung, yang lain murahan. Musik juga memiliki pagar-pagar. Ada musik ‘tinggi’, ada musik ‘rendahan’. Masing-masing berpaut pada ideologinya. Jadilah musik wilayah pertempuran ideologi yang tak habis-habisnya. Dan pertempuran tampaknya telah dimenangkan ideologi dominan. Adalah kapitalisme—ideologi yang sakit dan penuh keganjilan tapi dielu manusia moderen—yang memenangkan ‘perang’ itu.

Di lengan kapital, musik meruah. Pagar pemisah ambrol. Lantas yang tinggal hanyalah leburan puing-puing. Kini kita menikmati pop sekaligus dangdut. Keroncong sekaligus slow rock. Lenyapnya batas-batas.

Musik melejit dalam tempo cepat. Dalam satu pekan di MTV, misalnya, tangga musik rentan beralih, secepat ‘anak tangga’ saat dimainkan.  Kapitalisme bertumpu pada produksi dan konsumsi. Digerakkan mesin hasrat manusia yang tak pernah padam. 

Saat hasrat menjadi ideologi, teks dan musikus kadang tak lagi ‘akur’. Adakalanya syair harus tunduk pada yang ‘lain’, bukan pada ‘tuannya’, sebab ‘the other’ menentukan laku komoditi. Di sini, kita, the other, konsumen, seolah punya otoritas. Sebab, “Konsumen adalah raja,” begitulah salam hangat para ‘empunya’. Dan kita tahu itu hanyalah muslihat. Sebab, tonggak kuasa selalu berdiri kokoh pada mereka yang diistilahkan Marx sebagai The haves.

Merekalah yang menentukan pantas tidaknya sebuah notasi dan syair. Mereka digerakkan bukan oleh hukum apresiasi karya. Namun logika komoditas yang bersuluh di sumbu gelora hasrat kapital. Dan Derrida mencatat, the dead of author, kematian sang pengarang, meski pada konteks yang lain. Musikus, sang pengarang, tampaknya juga mengalami demikian. Mereka mesti berkompromi.

Bagi pengarang, syair harus tetap eksis. Di jalan ini, ada yang kukuh dan ambruk. Mereka yang kukuh harus rela tersisih dari manisnya pundi-pundi kapital. Mereka yang ambruk berlumur prestise, ketenaran dan uang. Sayangnya, kita terus menikmati syair yang lahir dari sini. Syair estetiskah? Tidak! Jika kita masih berpegang pada nilai adiluhung.

Melodi yang merdu itu memang akhirnya tak selamanya melodius. Iramanya ritmis meski dalam wujud yang serupa. Enak dan nyaman. Dan itu kini menyergap kita. Dan kita terus menikmati syair melodius itu dalam rupa paradoks; di kakus, di kelas, di warung makan, di atas kasur. Di manapun. 

Tanpa sadar, kita pun diam-diam digiring ke dunia yang asing, tapi mengasyikkan. Dunia konsumerisme. Kita pun enggan menengok sekeliling yang dililit ragam masalah. Kita amat iba saat seorang musisi ditimpa prahara, sementara abai saat prahara menubuh di negeri kita.

Akhirnya, seperti notasi Gregorian yang tunggal itu, notasi yang ritmis dan melodius sekalipun malahan kian ganjil. Tapi Gregorius ‘bermusik’ terpanggil oleh ekspresi diri yang jujur dan bersahaja kepada ilahi. Inilah yang luput dari tubuh musikus kini. Kita memang tak bisa dan tak mungkin menjadi Gregorius. Tapi bermusik karena dorongan nurani bukan mustahil bisa dilakukan. Meski kita paham, kita hidup di tengah zaman ‘kapital’ yang tak religius ini. Namun, tak mustahil pula melodius itu kembali lahir di rahim estetika seni. Lebih-lebih lahir di rahim nurani kemanusiaan. 

Kamis, 21 Februari 2013

Cinta

Oleh Sugianto

Waktu kian merangkak larut. Di sebuah ruang yang tak lapang, sekawanan anak muda duduk mengobrol. Dari wacana yang terlontar, menunjukkan seolah mereka sedang berbincang ‘serius’. Wacana apakah itu? Cinta. Cinta memang khas melekat pada obrolan kawula muda.

Cinta memang sudah dibincangkan setua peradaban manusia. Sejak Tuhan menciptakan Adam dan Hawa, cinta telah menempati pusat dalam diskursus agama. Tuhan tak hanya menciptakan seonggok daging. Ia juga meniupkan rasa cinta dalam tubuh Adam dan Hawa, yang kelak memengaruhi sejarah peradaban manusia. Dari Adam dan Hawa, seperti tertera dalam teks-teks kitab suci agama Ibrahim, lahirlah anak-cucu Adam yang beragam dan mendiami hampir di seluruh sudut di dunia ini.

Mungkin itu pulalah, dalam teks-teks suci itu, Tuhan pun berfirman, menyeru manusia mengenal satu sama lain. Dengan begitu mekarlah cinta. Perbedaan sebagai takdir Tuhan tak semestinya direspon dengan anarkisme yang berujung pada konflik yang mengorbankan kemanusiaan. Cintalah yang bisa menjadi jalan sekaligus suluh sumbu sosial yang mudah terbakar kapanpun dalam konstruk tubuh sosial yang rapuh saat ini.    

Di era filsafat skolastik, Yunani kuno dulu, cinta juga telah menjadi bagian sentral perdebatan masyarakat Athena. Plato mengenalkan arete (kebijaksanaan). Manusia sitir Plato, dalam menggapai arete, manusia harus memiliki cinta. Dalam diskursusnya tentang hidup bersama dalam bingkai republik Plato yang mashyur itu, cinta menempati pusat tindakan. Plato, katanya, negara harus dipimpin seorang filsuf karena memiliki arete. Ia harus memimpin rakyatnya dengan penuh kasih sayang. Begitulah pemimpin negara ideal versi Plato.

Muridnya yang terkenal, Aristoteles, jauh lebih dalam meradikalkan konsep gurunya. Aristoteles menilai kehidupan tanpa cinta bakal sia-sia. Bayi, kata Aristoteles, harus terus mendapat kasih sayang dari orang tuanya. Agar ia bisa eksis menempuh jalan hidupnya. Aristoteles melanjutkan, bayi yang kurang sentuhan kasih sayang akan mudah terserang penyakit dan membahayakan kehidupan sang bayi. Dari sinilah mungkin postulat psikologi moderen betapa berharganya cinta dalam tumbuh-kembang manusia berawal.

Begitulah cinta. Cinta amat subtil. Manusia tumbuh bersama cinta. Semenjak jemari ibu menyentuh sang bayi, dari situlah momen subtil manusia mengenal rasa cinta. Tanpa cinta mungkin benar seperti yang dibilang Aristoteles, kita tak akan pernah bisa bertahan hidup.

Namun cinta subtil yang sedari dulu diagungkan para penyair, sastrawan, dan para filsuf dalam karya-karyanya kini harus mendapati kenyataan pahit. Betapa tidak, sejak manusia menemukan teknologi canggih seperti televisi diskursus cinta telah melewati batas-batas normalnya.

Betapa mudahnya tv mereproduksi cinta dalam roman-roman picisan, telenovela, sinetron hingga film-film cinta yang tak bermutu. Cinta begitu diumbar. Hingga ia kehilangan misteri. Kini cinta seperti halnya kacang goreng renyah yang diobral murahan oleh para aktor-aktris di panggung sandiwara. Bayangkan saja betapa konyolnya, dalam adegan sebuah sinetron misalnya, seorang anak kecil sudah mengumbar rasa cintanya terhadap lawan jenis. Bukankah ini asing. Bahkan keterlaluan.

Mungkin benar seperti tesis Baudriliard bahwa era moderen adalah era visual. Para pemodal memanfaatkan wajah tampan dan ayu para tokoh untuk mengeksploitasi sekaligus mereduksi cinta hanya pada kawula muda. Kita yang besar dengan budaya tontonan kian klop dengan budaya baru tersebut. Sehingga apa yang kita tonton tanpa sadar merasuk dalam bawah sadar kita. Termasuk cinta ketika dianggap hanya partisan dan eksklusif konsumsi anak muda karena agenda setting tv demi meraup pundi-pundi rupiah diam-diam bawah sadar kita pun membenarkan diskursus dominan tersebut.

Dalam kondisi demikian, jangan-jangan kita tak pernah lagi mengalami atau merasakan detak-detak cinta yang begitu syahdu. Meski tiap saat kita tak pernah melewati sedikit pun sinetron, iklan, atau novel-novel cinta picisan.

Kita pun tak heran, ketika bencana kemanusiaan―kelaparan, busung lapar, penganiyaan TKI, rusaknya moralitas elit-elit kita―sebagian anak muda memilih diam seribu bahasa. Sebaliknya saat konser-konser musik bertema cinta tak sedikit di antara mereka meneteskan air mata karena diasosiasikan dengan pengalaman cintanya. Lalu kemanakah cinta sejati itu bermukim? Benarkah ia sudah tenggelam kumuh di burit para industriawan? Kita tak paham. Tapi seperti diskurusus anak muda di ruangan  tengah malam itu, cinta memang khas anak muda saat bertemu lawan jenisnya. Kalau sudah begitu mau apa lagi. Cinta sepertinya tak mau lagi berumah di dalam hati yang universal. Seperti ajaran cinta kasih Paus yang damai itu. Selamat bercinta!!! 

Denting, Sepenggal Masa Lalu...



Oleh Sugianto

Remas saja kantong kresek. Dengan lejit ia menghampiri. Sesegera pula Jacobson-nya, organ pembau, yang terletak di langit-langit mulutnya, mendorongnya dongak atau menoleh kiri-kanan. Mengendus-endus aroma makanan. Ia biasanya mengeong kecil, saat mendapati kresek itu kosongtak ada sate ayam, makanan yang paling disukainya. Begitulah tingkahnya saat ia lapar.

Ia dinamai Denting oleh seorang kawan. Tak jelas denotasi namanya mengacu pada konteks apa. Jika mengira-ngira, mungkin saja nama itu bertautan erat dengan sebuah opening indah sebuah lagu populer Iwan Fals, Yang Terlupakan. Begini syairnya, Denting piano….Kala jemari menari. Maklum, malam belakangan ini kami akrab melantunkan lagu-lagu Iwan Fals hingga fajar sidiq perlahan mengintip di ufuk timur.   

Denting adalah seekor kucing. Saat dipungut dari seorang ibu yang iba melihat anak kucing yang terpisah dari sang induk, kira-kira ia baru berumur belasan hari. Tampak dari getar suaranya yang halus saat mengeong dan giginya yang belum bisa mengunyah makanan padat.

Kami sempat dibikin repot. Karena tak seorang pun dari kami pernah memelihara bayi kucing yang seyogyanya masih menyusu pada induknya itu. Mencari sang induk terasa membuang-buang waktu. Belasan kucing yang berkeliaran di area kampus tak sedikit pun menunjukkan gestur tubuh seorang ibu. Itu pernah dicoba saat mendekatkan Denting dengan kucing-kucing itu. Nihil.

Di manakah gerangan sang induk bersembunyi? Entahlah. Tak ada yang tahu. Rasa pesimis pun terbit. Mustahil ia bisa bertahan hidup, begitulah yang terlintas di benak seorang kawan.
Untunglah seiring waktu berlalu ia terbiasa dengan rasa lapar. Denting tumbuh dalam kebersahajaan. Tumbuh di ruang-ruang miskin. Tak ada susu untuk menyuplai energi tubuhnya. Makannya pun secuil telur goreng yang dibeli dari Burjo. Sepanjang hari tubuhnya lunglai. Tak bergairah seperti anak-anak kucing pada galibnya.

Beruntung jika Mbak Yu mampir di malam hari. Seorang ibu penjual makanan, yang berhati lembut. Sejak belia, dari tahun 80-an, lewat sepeda ontelnya, Bu Singgang, sapaan populernya, sudah berkeliling menjajakan panganan dari kos ke kos. Mungkin terlalu dini, jika ia tersemat karakter seorang dewi. Dewi Sri. Dewi kesuburan dalam mitologi masyarakat Jawa, yang memberi hujan kala kantong mahasiswa kering kerontang di musim kemarau. Karena ‘pengabdian’ pada profesinya tak diragukan lagi. Denting pun bisa makan lele atau ayam goreng dengan lahap.


Sabtu, 02 April 2011

Khadafy dan Wanita

Salah satu penampilan Khadafy yang mencolok, heboh, menarik, membuat orang terpana, juga menakutkan, adalah puluhan gadis cantik yang mengawalnya. Begitu keluar dari Bab al- Aziziya, basis militer dan kediaman pribadi Khadafy, gerombolan gadis itu selalu mengikutinya.

Jika Khadafy mengadakan lawatan ke negara lain, dia selalu dikawal paling sedikit oleh 40 gadis dengan lipstik dan maskara tebal. Di dalam negeri, dia dikawal paling sedikit lima gadis cantik terpilih. Mereka akan berjaga-jaga di sekeliling Khadafy, termasuk di saat ia tidur.

Gadis-gadis itu selalu mengenakan kaca mata hitam produk desainer terkemuka dari Gucci, berkalung berlian dan memakai sepatu bot, hak tinggi, bermerek pula. Salah satu merek sepatu favorit gadis-gadis itu adalah produk Nancy Sinatra. Khadafy memanjakan mereka.

Tubuh gadis-gadis itu dibalut seragam tentara. Kadang menggunakan kerudung, tetapi kadang pula mereka membiarkan rambutnya jatuh tergerai bebas. Mereka tampil seksi, mirip fashionista atau model, tetapi mereka sesungguhnya adalah tentara terlatih. Foto-foto mereka bertebaran di media Barat.

Pada November 2006, di Abuja, Nigeria, sempat terjadi insiden diplomatik. Khadafy datang dikawal 200 tentara bersenjata lengkap. Dia menolak jika senjata itu dilucuti, sebagaimana dilaporkan BBC News.

Kehadiran puluhan gadis pengawalnya di Kiev, Ukraina, pada November 2008 memukau dan mengejutkan pejabat setempat. Begitu pula ketika menghadiri festival budaya Afrika di Dakar, Senegal, pada Desember 2010.

Setiap saat jika sedang mengawal Khadafy, gadis-gadis itu memikul senapan Kalashnikov dan mereka bisa membunuh. Kalashnikov adalah senapan serbu bikinan perancang senapan ternama Rusia, Mikhail Kalashnikov. Senapan ini diadopsi dan dijadikan senapan standar Uni Soviet pada 1947 sehingga disebut AK-47.

Khadafy menyebut para gadisnya itu al-rahibat al-thawriyyat atau para rabib revolusioner (revolutionary nuns). Media Barat kadang menyebutnya amazonian guard, jebolan dari Akademi Militer Perempuan Tripoli yang didirikan Khadafy di tahun 1979, 10 tahun setelah dia mengudeta Raja Idris.

Banyak pengunjung asing ke Libya melukiskan, akademi itu berada dalam kompleks besar dengan pagar tembok yang kokoh. Jane Kokan, wartawan The Vancover Sun, Kanada, yang pernah mengunjungi akademi itu dan mewawancarai Khadafy mengatakan, akademi itu dibangun Khadafy sebagai simbol emansipasi perempuan Libya.

”Saya berjanji kepada ibuku untuk memperbaiki keadaan kaum perempuan Libya,” katanya seperti dilaporkan Kokan. Ibunya, seorang wanita dari Badouin, lahir ketika Libya masih dalam koloni Italia. Meski seorang wanita buta huruf, tetapi ibunya itu pandai memanah.

Gadis-gadis yang dilatih unumnya terpilih. Program pelatihan selama tiga tahun melibatkan semua aspek keprajuritan dari tembakan artileri, peluncur roket, pertarungan fisik, dan komunikasi. Aktivitas selama pelatihan dimulai sejak subuh, pukul 04.30.

Doug Sanders, wartawan harian The Globe and Mail, Toronto, Kanada, yang pernah bertandang ke Tripoli pada 2004 memberikan keterangan yang sama. Dia menulis diblognya, ”Ini potret pikirannya yang idiosyncratic dan teka-teki revolusi di negara di mana perempuan dalam kehidupan sehari-hari masih jauh dari persamaan hak dan kewajiban.”

Setidaknya, sudah 30 tahun Khadafy menjadi ”pengantin” rupa-rupa gadis dari setiap angkatan. Mereka disumpah sejak masuk akademi untuk membelanya dan tetap perawan selama pelatihan. Pada 1998 salah satu pengawalnya itu mati demi melindungi Khadafy dari serangan militan.

Khadafy adalah pelopor emansipasi wanita Libya. Bouseyfi Kultsum, pilot wanita pertama Libya, kepada BBC News bertutur, Khadafy meretas tabu sosial yang menutup ruang gerak wanita, seperti dicontohkan Aisha, putrinya, yang turun ke jalan membela ayahnya.

Sumber berita: kompas.com

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More