Oleh Sugianto
Remas saja kantong kresek. Dengan lejit ia menghampiri. Sesegera pula Jacobson-nya, organ pembau, yang terletak di langit-langit mulutnya, mendorongnya dongak atau menoleh kiri-kanan. Mengendus-endus aroma makanan. Ia biasanya mengeong kecil, saat mendapati kresek itu kosong—tak ada sate ayam, makanan yang paling disukainya. Begitulah tingkahnya saat ia lapar.
Remas saja kantong kresek. Dengan lejit ia menghampiri. Sesegera pula Jacobson-nya, organ pembau, yang terletak di langit-langit mulutnya, mendorongnya dongak atau menoleh kiri-kanan. Mengendus-endus aroma makanan. Ia biasanya mengeong kecil, saat mendapati kresek itu kosong—tak ada sate ayam, makanan yang paling disukainya. Begitulah tingkahnya saat ia lapar.
Ia dinamai
Denting oleh seorang kawan. Tak jelas denotasi namanya mengacu pada konteks
apa. Jika mengira-ngira, mungkin saja nama itu bertautan erat dengan sebuah opening indah sebuah lagu populer Iwan
Fals, Yang Terlupakan. Begini
syairnya, Denting piano….Kala jemari
menari. Maklum, malam belakangan ini kami akrab melantunkan lagu-lagu Iwan
Fals hingga fajar sidiq perlahan mengintip di ufuk timur.
Denting adalah
seekor kucing. Saat dipungut dari seorang ibu yang iba melihat anak kucing
yang terpisah dari sang
induk, kira-kira ia baru berumur belasan hari. Tampak dari getar suaranya
yang halus saat mengeong dan giginya yang belum bisa mengunyah makanan padat.
Kami sempat
dibikin repot. Karena tak seorang pun dari kami pernah memelihara bayi kucing yang
seyogyanya masih menyusu pada induknya itu. Mencari sang induk terasa
membuang-buang waktu. Belasan kucing yang berkeliaran di area kampus tak
sedikit pun menunjukkan gestur tubuh seorang ibu. Itu pernah dicoba saat
mendekatkan Denting dengan kucing-kucing itu. Nihil.
Di manakah
gerangan sang induk bersembunyi? Entahlah. Tak ada yang tahu. Rasa pesimis pun terbit.
Mustahil ia bisa bertahan hidup, begitulah yang terlintas di benak seorang
kawan.
Untunglah seiring
waktu berlalu ia terbiasa dengan rasa lapar. Denting tumbuh dalam
kebersahajaan. Tumbuh di ruang-ruang miskin. Tak ada susu untuk menyuplai energi tubuhnya.
Makannya pun secuil telur goreng yang dibeli dari Burjo. Sepanjang hari
tubuhnya lunglai. Tak bergairah seperti anak-anak kucing pada galibnya.
Beruntung jika
Mbak Yu mampir di malam hari. Seorang ibu penjual makanan, yang berhati lembut.
Sejak belia, dari
tahun 80-an, lewat sepeda ontelnya, Bu Singgang, sapaan populernya, sudah berkeliling
menjajakan panganan dari kos ke kos. Mungkin terlalu dini, jika ia tersemat
karakter seorang dewi. Dewi Sri. Dewi kesuburan dalam mitologi masyarakat Jawa,
yang memberi hujan kala kantong mahasiswa kering kerontang di musim kemarau.
Karena ‘pengabdian’ pada profesinya tak diragukan lagi. Denting pun bisa makan
lele atau ayam goreng dengan lahap.
Saat perut kecilnya buncit. Timbullah watak aslinya. Ia merebahkan tubuhnya di kasur, di atas kursi, bahkan tak jarang menyelusup di sela-sela betis. Ia kerap bermalas-malasan jika sudah kenyang. Konon, bangsa mereka bisa menghabiskan waktu hingga 20 jam sehari untuk tidur.
Jika sudah
cukup beristirahat, ia lantas bermain. Untuk urusan yang satu ini jangan
ditanya bebalnya. Mainkan saja jemari beriringan pelan di lantai. Mirip mengetuk. Maka,
ia langsung siaga satu. Mirip seperti perilaku saudara ‘besarnya’ yang sedang
mengendap-endap di padang rumput sabana, mengintai antelop.
Kendati tak
seliar ‘saudaranya’, jemarimu bisa merasakan gigitan-gigitan kecil dari rahang
susunya serta kukunya yang mencakar lembut. Tak sakit. Ia tampaknya hanya
bermain. Seperti laku anak-anak singa yang riang sehabis menyusu pada induknya.
Mungkin ia juga melatih naluri ‘pembunuhnya’. Katakanlah jika suatu saat ia
menggelandang seorang diri di hutan belantara. Ia mandiri, tak mesti lagi bergantung pada manusia.
Walau Denting
bukanlah ras kucing istimewa semacam Maine Coon dan Persia yang gagah,
menggemaskan, dan mahal itu, bagi kami ia tetaplah
spesial. Seperti menyitir
tuturan seorang kawan, ia menjadi obat
penenang saat stres mendera kepala. Lihat
saja jalannya yang parlente dan genit seperti para peragawati amatiran di atas catwalk dijamin _ia mencuatkan tawa riang.
Denting pun bisa menjadi inspirasi di
hari-hari yang jumud. Sebuah puisi apik yang bertutur tentang hakikat, makna,
dan eksistensi hidup lahir dari perjumpaan yang intens dengannya. Seperti aku
seorang sastrawan malu-malu di suatu malam yang hening.
Sekilas Sejarah Kucing
Kucing adalah
binatang mamalia yang sudah menjadi hewan piaraan paling digemari banyak orang.
Ia mudah dijumpai dari kampung-kampung kumuh hingga apartemen mewah. Begitu dekatnya
mereka dengan manusia. Ia telah mengalami domestikasi (penjinakkan). Domestikasi
kucing telah berlangsung setua peradaban manusia.
Dari mana
asalnya? Kira-kira 50 juta tahun silam, para ilmuwan meyakini nenek moyang kucing
ialah Miacis. Binatang liar mirip
musang yang hidup di masa Eosen.
Baru-baru ini
di Shillourokambos, Siprus, di sebuah makam tua, seperti dilansir
Wikipedia, telah ditemukan sebuah kerangka kucing yang dikuburkan bersama
manusia. Ilmuwan memperkirakan kerangka tersebut telah berusia 7.500 tahun SM.
Bukti tertulis
soal domestikasi kucing baru-baru ini ditemukan di Mesir. Dalam bukti-bukti itu
diterakan, orang-orang Mesir kuno telah menggunakan jasa kucing sebagai penjaga
toko dan lumbung-lumbung
pangan dari serangan tikus.
Di tahun 1800-an,
bukti arkeologi, ratusan ribu mumi kucing yang masih utuh ditemukan di sebuah
daerah di Mesir. Dari sini jelas terang begitu harmoninya hubungan kucing dan
penduduk Mesir. Karena kita paham, bahwa orang-orang Mesir kuno memiliki
tradisi memumikan orang-orang terhormat setelah wafat, seperti yang dilakukan pada
raja-rajanya. Sebagai simbol kemuliaan, keagungan dan keabadian, yang khas seperti
keyakinan masyarakat pagan.
Begitu pun
dengan hewan yang bernama latin Felis silvestris catus ini amat dihormati bangsa Mesir kuno. Bahkan kucing
dianggap sebagai jelmaan dewi Bast.
Kematian ialah hukuman bagi mereka yang membunuh kucing.
Tampaknya
keyakinan orang Mesir kuno serupa dengan keyakinan masyarakat kita. Di
mana-mana, hampir
di semua tradisi, orang sangat percaya bahwa kucing adalah hewan istimewa.
Orang takut kualat jika menyakiti kucing. Bahkan saat tak sengaja kucing
tertabrak, menurut kepercayaan sebagian orang, pengendara harus menguburkannya
secara layak. Demi terhindar dari malapateka.
Namun sejarah
kucing tak selamanya istimewa. Di abad pertengahan, di abad yang kacau itu, ketika
wabah penyakit yang diperkirakan para ahli sejarah belakangan ini ialah pes—wabah penyakit yang ditularkan oleh
kutu-kutu tikus—mengepung Eropa, kucinglah yang dituding sebagai biang keladi.
Paus pun saat
itu ikut menuding wabah mengerikan atau Black
Death yang populer disebut dalam teks-teks sejarah itu diakibatkan kucing. Fatwa
pun melayang: kucing yang berkeliaran bebas telah bersekutu dengan para
penyihir dan setan. Walhasil fatwa itu memicu pembunuhan dan pembakaran_massal terhadap kucing. Tak sampai di situ,
bangkainya pun diarak dan dilempar dari ketinggian demi mengusir roh jahat yang
bersemayam dalam tubuh kucing. Populasi kucing pun menurun_drastis.
Di era
sekarang kucing seolah kembali ke zaman keemasannya. Tapi berlaku hanya untuk
kucing-kucing ras tertentu. Seperti kucing Persia yang ramai diburu banyak
orang mesti harganya selangit. Di mal-mal megah mentereng, kini eksebisi
kucing-kucing ‘serupa’ pameran mobil-mobil mewah yang menggoda dan menggemaskan
mudah dijumpai. Kucing bagaimanapun telah menjadi komoditas yang sangat menjanjikan
di pasar global.
Tapi tunggu
ada yang luput! Kucing-kucing di luar ras unggul tetap saja hidup seperti di
abad pertengahan, meski tak sekejam masa itu. Denting dan kawan-kawannya hanya
mengeong lemah mengais sisa makanan basi. Kumuh bersama orang-orang pinggiran. Sementara
rekan sejawatnya: Maine Coon dan Persia mengeong merdu di etalase eksebisi yang
menggiurkan.




0 komentar:
Posting Komentar