Kamis, 21 Februari 2013

Denting, Sepenggal Masa Lalu...



Oleh Sugianto

Remas saja kantong kresek. Dengan lejit ia menghampiri. Sesegera pula Jacobson-nya, organ pembau, yang terletak di langit-langit mulutnya, mendorongnya dongak atau menoleh kiri-kanan. Mengendus-endus aroma makanan. Ia biasanya mengeong kecil, saat mendapati kresek itu kosongtak ada sate ayam, makanan yang paling disukainya. Begitulah tingkahnya saat ia lapar.

Ia dinamai Denting oleh seorang kawan. Tak jelas denotasi namanya mengacu pada konteks apa. Jika mengira-ngira, mungkin saja nama itu bertautan erat dengan sebuah opening indah sebuah lagu populer Iwan Fals, Yang Terlupakan. Begini syairnya, Denting piano….Kala jemari menari. Maklum, malam belakangan ini kami akrab melantunkan lagu-lagu Iwan Fals hingga fajar sidiq perlahan mengintip di ufuk timur.   

Denting adalah seekor kucing. Saat dipungut dari seorang ibu yang iba melihat anak kucing yang terpisah dari sang induk, kira-kira ia baru berumur belasan hari. Tampak dari getar suaranya yang halus saat mengeong dan giginya yang belum bisa mengunyah makanan padat.

Kami sempat dibikin repot. Karena tak seorang pun dari kami pernah memelihara bayi kucing yang seyogyanya masih menyusu pada induknya itu. Mencari sang induk terasa membuang-buang waktu. Belasan kucing yang berkeliaran di area kampus tak sedikit pun menunjukkan gestur tubuh seorang ibu. Itu pernah dicoba saat mendekatkan Denting dengan kucing-kucing itu. Nihil.

Di manakah gerangan sang induk bersembunyi? Entahlah. Tak ada yang tahu. Rasa pesimis pun terbit. Mustahil ia bisa bertahan hidup, begitulah yang terlintas di benak seorang kawan.
Untunglah seiring waktu berlalu ia terbiasa dengan rasa lapar. Denting tumbuh dalam kebersahajaan. Tumbuh di ruang-ruang miskin. Tak ada susu untuk menyuplai energi tubuhnya. Makannya pun secuil telur goreng yang dibeli dari Burjo. Sepanjang hari tubuhnya lunglai. Tak bergairah seperti anak-anak kucing pada galibnya.

Beruntung jika Mbak Yu mampir di malam hari. Seorang ibu penjual makanan, yang berhati lembut. Sejak belia, dari tahun 80-an, lewat sepeda ontelnya, Bu Singgang, sapaan populernya, sudah berkeliling menjajakan panganan dari kos ke kos. Mungkin terlalu dini, jika ia tersemat karakter seorang dewi. Dewi Sri. Dewi kesuburan dalam mitologi masyarakat Jawa, yang memberi hujan kala kantong mahasiswa kering kerontang di musim kemarau. Karena ‘pengabdian’ pada profesinya tak diragukan lagi. Denting pun bisa makan lele atau ayam goreng dengan lahap.


Saat perut kecilnya buncit. Timbullah watak aslinya. Ia merebahkan tubuhnya di kasur, di atas kursi, bahkan tak jarang menyelusup di sela-sela betis. Ia kerap bermalas-malasan jika sudah kenyang. Konon, bangsa mereka bisa menghabiskan waktu hingga 20 jam sehari untuk tidur.

Jika sudah cukup beristirahat, ia lantas bermain. Untuk urusan yang satu ini jangan ditanya bebalnya. Mainkan saja jemari beriringan pelan di lantai. Mirip mengetuk. Maka, ia langsung siaga satu. Mirip seperti perilaku saudara ‘besarnya’ yang sedang mengendap-endap di padang rumput sabana, mengintai antelop.

Kendati tak seliar ‘saudaranya’, jemarimu bisa merasakan gigitan-gigitan kecil dari rahang susunya serta kukunya yang mencakar lembut. Tak sakit. Ia tampaknya hanya bermain. Seperti laku anak-anak singa yang riang sehabis menyusu pada induknya. Mungkin ia juga melatih naluri ‘pembunuhnya’. Katakanlah jika suatu saat ia menggelandang seorang diri di hutan belantara. Ia mandiri, tak mesti lagi bergantung pada manusia.

Walau Denting bukanlah ras kucing istimewa semacam Maine Coon dan Persia yang gagah, menggemaskan, dan mahal itu, bagi kami ia tetaplah spesial. Seperti menyitir tuturan seorang kawan, ia  menjadi obat penenang saat stres mendera kepala. Lihat saja jalannya yang parlente dan genit seperti para peragawati amatiran di atas catwalk dijamin _ia mencuatkan tawa riang.

Denting pun bisa menjadi inspirasi di hari-hari yang jumud. Sebuah puisi apik yang bertutur tentang hakikat, makna, dan eksistensi hidup lahir dari perjumpaan yang intens dengannya. Seperti aku seorang sastrawan malu-malu di suatu malam yang hening.  

Sekilas Sejarah Kucing

Kucing adalah binatang mamalia yang sudah menjadi hewan piaraan paling digemari banyak orang. Ia mudah dijumpai dari kampung-kampung kumuh hingga apartemen mewah. Begitu dekatnya mereka dengan manusia. Ia telah mengalami domestikasi (penjinakkan). Domestikasi kucing telah berlangsung setua peradaban manusia.

Dari mana asalnya? Kira-kira 50 juta tahun silam, para ilmuwan meyakini nenek moyang kucing ialah Miacis. Binatang liar mirip musang yang hidup di masa Eosen.

Baru-baru ini di Shillourokambos, Siprus, di sebuah makam tua, seperti dilansir Wikipedia, telah ditemukan sebuah kerangka kucing yang dikuburkan bersama manusia. Ilmuwan memperkirakan kerangka tersebut telah berusia 7.500 tahun SM.

Bukti tertulis soal domestikasi kucing baru-baru ini ditemukan di Mesir. Dalam bukti-bukti itu diterakan, orang-orang Mesir kuno telah menggunakan jasa kucing sebagai penjaga toko dan lumbung-lumbung pangan dari serangan tikus.

Di tahun 1800-an, bukti arkeologi, ratusan ribu mumi kucing yang masih utuh ditemukan di sebuah daerah di Mesir. Dari sini jelas terang begitu harmoninya hubungan kucing dan penduduk Mesir. Karena kita paham, bahwa orang-orang Mesir kuno memiliki tradisi memumikan orang-orang terhormat setelah wafat, seperti yang dilakukan pada raja-rajanya. Sebagai simbol kemuliaan, keagungan dan keabadian, yang khas seperti keyakinan masyarakat pagan.

Begitu pun dengan hewan yang bernama latin Felis silvestris catus ini amat dihormati bangsa Mesir kuno. Bahkan kucing dianggap sebagai jelmaan dewi Bast. Kematian ialah hukuman bagi mereka yang membunuh kucing.

Tampaknya keyakinan orang Mesir kuno serupa dengan keyakinan masyarakat kita. Di mana-mana, hampir di semua tradisi, orang sangat percaya bahwa kucing adalah hewan istimewa. Orang takut kualat jika menyakiti kucing. Bahkan saat tak sengaja kucing tertabrak, menurut kepercayaan sebagian orang, pengendara harus menguburkannya secara layak. Demi terhindar dari malapateka.

Namun sejarah kucing tak selamanya istimewa. Di abad pertengahan, di abad yang kacau itu, ketika wabah penyakit yang diperkirakan para ahli sejarah belakangan ini ialah peswabah penyakit yang ditularkan oleh kutu-kutu tikus—mengepung Eropa, kucinglah yang dituding sebagai biang keladi.

Paus pun saat itu ikut menuding wabah mengerikan atau Black Death yang populer disebut dalam teks-teks sejarah itu diakibatkan kucing. Fatwa pun melayang: kucing yang berkeliaran bebas telah bersekutu dengan para penyihir dan setan. Walhasil fatwa itu memicu pembunuhan dan pembakaran_massal terhadap kucing. Tak sampai di situ, bangkainya pun diarak dan dilempar dari ketinggian demi mengusir roh jahat yang bersemayam dalam tubuh kucing. Populasi kucing pun menurun_drastis.            

Di era sekarang kucing seolah kembali ke zaman keemasannya. Tapi berlaku hanya untuk kucing-kucing ras tertentu. Seperti kucing Persia yang ramai diburu banyak orang mesti harganya selangit. Di mal-mal megah mentereng, kini eksebisi kucing-kucing ‘serupa’ pameran mobil-mobil mewah yang menggoda dan menggemaskan mudah dijumpai. Kucing bagaimanapun telah menjadi komoditas yang sangat menjanjikan di pasar global.

Tapi tunggu ada yang luput! Kucing-kucing di luar ras unggul tetap saja hidup seperti di abad pertengahan, meski tak sekejam masa itu. Denting dan kawan-kawannya hanya mengeong lemah mengais sisa makanan basi. Kumuh bersama orang-orang pinggiran. Sementara rekan sejawatnya: Maine Coon dan Persia mengeong merdu di etalase eksebisi yang menggiurkan.         

                                                                       

0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More